728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, 12 October 2017

    HOW ABOUT THE LEADER?

    HOW ABOUT THE LEADER?
    Salah seorang kakak senior yang pernah menahkodai sebuah lembaga kampus di Fakultas kami, berbagi pelajaran berharga tentang kepemimpinan. Secara pribadi penulis mendapatkan banyak ilmu darinya. Ia sangat sering menasehati terutama terkait bagaimana seorang pemimpin melakukan pengorbanan. Ada banyak hal yang ternyata harus dikorbankan oleh seorang pemimpin yaitu:
    1.      Waktu 
    Tak dapat dipungkiri bahwa persepsi mengenai waktu yang amat berharga, bagi setiap orang pasti berbeda. Ada yang mengatakan "waktu adalah uang", ada juga yang mengatakan "waktu adalah ilmu" atau "waktu adalah pedang" dan lain-lain. Apapun namanya, bagi seorang pemimpin, waktu adalah salah satu bentuk pengorbanan. Jika seseorang telah diamanahkan untuk memimpin sebuah lembaga dan semacamnya, maka seluruh waktunya harus tersita untuk lembaga atau orang-orang yang dipimpinnya. Bahkan 24 jam aktivitas yang digeluti harus berpacu dengan waktu. Prioritas utama untuk menjaga stabilitas lembaga, bukan yang lainnya. Bahkan untuk urusan pribadi sekalipun. Waktu berkumpul dengan keluarga atau sahabat, mungkin akan berkurang. Tapi, inilah konsekwensi yang harus diterima dan dijalani. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk mengatur waktu dengan baik, dengan mendahulukan urusan yang penting dan mendesak untuk dilaksanakan terlebih dahulu.
    2.      Tenaga 
    Yah, menjadi pemimpin memang tidak mudah, bahkan cenderung melelahkan. 100% tenaga yang dimilikinya akan terkuras dengan sendirinya. Amanah kepemimpinan akan selalu menuntut si pemimpin agar mampu membuat terobosan baru, berupa program kegiatan untuk mencapai visi-misi dan tujuan lembaganya. Oleh karena itu, seluruh tenaga si pemimpin harus dikerahkan untuk melakukan manajemen yang baik demi lembaga yang dipimpinnya. Beruntung jika di lembaga yang dipimpin itu, memiliki banyak anggota yang dapat digerakkan. Nah, bagaimana dengan lembaga yang baru terbentuk atau lembaga yang baru belajar merangkak? Tentunya si pemimpin akan bekerja 2 kali lipat lebih keras ketimbang lembaga yang telah mampu berdiri sendiri dan memiliki anggota yang banyak. Belum lagi ketika si pemimpin dihadapkan pada anggota yang cuek dan tak mau diatur, bahkan tidak mau bekerja. Pasti si pemimpin akan terjun langsung mengerjakan pekerjaan anggotanya. Inilah tantangan menjadi seorang pemimpin. Akan tetapi, apapun bentuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga banyak, pepatah "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing" harus diutamakan untuk lebih menghemat tenaga yang dimiliki. Membudayakan gotong royong dan kebersamaan itu penting. 
    3.      Pikiran 
    Pemimpin yang cerdas akan menghasilkan ide-ide cerdas untuk kepemimpinannya. Inilah salah satu tantangan terbesar jika menjadi pemimpin. Seorang pemimpin harus mengerahkan setiap ide dan pikiran kreatifnya untuk kemaslahatan lembaga dan orang-orang yang dipimpinnya. Bukan hanya itu saja, dalam sebuah lembaga tentu setiap anggota memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Bahkan kerap kali benturan pemikiran dan perbedaan persepsi terjadi dalam perjalanan kepemimpinan. Nah, seorang pemimpin harus mampu mengenali karakter orang-orang yang dipimpinnya, ia juga harus pandai dan jeli menyiasati orang-orang seperti ini, meskipun harus menguras pikiran. Menjadi pemimpin tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri tapi harus lebih mengutamakan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya. Dalam sebuah lembaga, ide si pemimpin adalah ujung tombak dalam perjalanan lembaga, sekaligus sebagai acuan dalam menjalankan roda kepemimpinan dengan baik. Terutama dalam pengambilan keputusan. Pemimpin harus mampu berfikir secara bijak dalam menentukan kebijakan yang akan dijalankan oleh para anggota ke depannya. 
    4.      Perasaan 
    Berbicara perasaan mungkin akan sedikit sensitif dibanding pengorbanan lainnya. Seorang pemimpin tidak boleh terhanyut oleh perasaannya. Konflik dalam lembaga, adalah hal biasa. Konflik adalah bunga atau pemanis dalam lembaga yang merupakan bagian dari dinamika kehidupan. Konflik terkadang menimbulkan ketersinggungan bahhkan memunculkan emosi dan amarah, antar sesama anggota lembaga. Hal inipun kerap kali terjadi diantara pemimpin dan anggota. Seorang pemimpin harus mampu menahan amarah dan menekan perasaannya meskipun ia sendiri harus merasakan perih dalam hati. Konsekwensi inilah yang paling sulit untu dijalani oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus selalu terlihat tersenyum dan baik-baik saja di hadapan para anggotanya meskipun dalam hatinya tersembunyi sebuah kesakitan. Semua pengorbanan ini tentu harus dilakukan untuk menjaga kelancaran lembaga yang dipimpinnya. 
    Menjadi pemimpin sungguh membutuhkan pengorbanan yang luar biasa. Waktu yang seharusnya diluangkan untuk keluarga dan teman, justru diinfakkan untuk menjalankan amanah kepemimpinan. Pemimpin rela berlelah-lelah meski tenaga habis terkuras untuk orang lain. Bahkan waktu istirahatnyapun rela ia sisihkan demi lembaga dan orang-orang yang dipimpinnya.
    5.      Materi 
    Perjalanan organisasi terkadang tak semulus yang diharapkan. Masalah utama yang tak kalah penting adalah materi/pendanaan. Beruntung jika lembaga yang dipimpin memiliki anggaran dari kampus atau pemerintah setempat. Jika ada bantuan seperti itu, lembaga yang bersangkutan mungkin tidak akan kewalahan jika ingin melaksanakan kegiatan. Nah, bagaimana jika tidak ada?
    Untuk merealisasikan program kerja lembaga pasti membutuhkan anggaran. Seorang pemimpin otomatis akan mengerahkan tenaga dan fikirannya untuk mengumpulkan anggaran sebanyak-banyaknya, agar program kerja dapat terlaksana tanpa kekurangan apapun. Salah satu hal yang menjadi kendala meskipun ide kreatif sudah dijalankan secara halal, terkadang anggaran yang dikumpulkan ternyata tak mencukupi hingga kegiatan selesai, sehingga solusinya adalah sumbangsi materi dari para anggota lembaga terutama pemimpinnya. Pun jika semua materinya dibutuhkan demi menutupi kekurangan yang ada, seorang pemimpin harus siap mengorbankan semua itu. Menjadi pemimpin memang rumit. Meski materi bukanlah penentu kesuksesan sebuah lembaga, akan tetapi materi merupakan salah satu pendukung utama. Janganlah mencari materi atau penghidupan di lembaga akan tetapi hidupilah lembaga itu. Seorang pemimpin harus mampu menghidupi lembaganya, bukan untuk mencari penghidupan di dalamnya. 
    Itulah pengorbanan seorang pemimpin, fikiran yang seharusnya ia gunakan untuk memikirkan dirinya sendiri justru diluangkan untuk memikirkan kemaslahatan orang lain sementara dirinya sendiri tak terurus. Padahal orang lain saja belum tentu memikirkannya. Beribu kekecewaan, sakit hati, rela ia pendam dan tak seorangpun yang mengetahui. Semua itu dilakukan agar orang-orang dipimpin merasa nyaman berada di bawah kepemimpinannya. Cobaan dan tantangan yang datang silih berganti dalam sebuah kepemimpinan adalah ujian. Pengorbanan dengan harta, jiwa dan raga yang dilakukan oleh seorang pemimpin harus diyakini akan mendapat balasan yang setimpal dari Sang Pencipta jika dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Apapun bentuk pengorbanannya, maka jangan patah semangat untuk menjadi pemimpin karena memimpin adalah wadah yang efektif untuk menjalankan lembaga secara penuh.
    Perjalanan panjang setiap organisasi dari hari ke hari, tentu tak semulus yang terbayangkan dalam benak kita. Ibarat perjalanan, akan ada tanjakan, turunan, tikungan, jalan terjal yang berbatu dan berlubang. Tak jarang kecelakaanpun terjadi. Itulah lembaga.
    Dinamika dan tantangan dari zaman ke zaman tentu akan berbeda. Indah hari ini, belum tentu indah esok hari. Sebaliknya, buruk hari ini, belum tentu buruk esok hari.  Perbedaan pendapat, karakter/watak/sifat orang-orang yang bergelut dalam sebuah lembaga tak jarang mengakibatkan konflik internal. Sehingga menimbulkan masalah dan mengganggu stabilitas lembaga. Ditambah lagi dengan adanya dinamika konflik eksternal yang juga membutuhkan solusi. 
    Tak perlu khawatir…Konflik dalam sebuah lembaga dapat berpeluang menimbulkan dampak positif dan negatif. Konflik merupakan proses pendewasaan. Akan tetapi, jika konflik dibiarkan berlarut-larut tanpa adanya upaya penyelesaian, maka konflik tersebut akan mengganggu perjalanan lembaga. Bahkan dapat berakibat fatal. Bisa saja masalah yang notabenenya amat kecil dapat semakin meluas dan mengganggu hubungan antar pengurus lembaga.
    Sebagai hikmah, konflik juga dapat kita petik nilai positifnya. Untuk seseorang yang mampu menganalisa masalah yang sedang dihadapi secara dewasa, akan membantu menguatkan mental para pengurus lembaga yang bergelut di dalamnya. Konflik mampu mendewasakan kita, baik dalam berfikir, bertindak dan bertanggungjawab. Tak perlu ada ketakutan, sebab ketakutan bukanlah solusi. Justru semakin menambah masalah. 
    Teori konflik Dalf Dahrendolf, mengatakan bahwa "konflik akan berakhir jika manusia sudah tak ada lagi." Secara pribadi penulis sepakat jika hal ini hanya sebatas di kehidupan dunia saja. Selama manusia masih hidup, ia akan terus bermasalah. Mau tidak mau, suka tidak suka. Hidup adalah sebuah masalah yang harus dijalani. Cara menghadapinya, tergantung upaya kita masing-masing. Dalam konteks kepemimpinan, lembaga apapun itu tak pernah jauh dari konflik atau masalah baik internal maupun eksternal. Ketahanan mental maupun fisik seorang pemimpin tentu akan mempengaruhi penyelesaian masalah terutama dalam menempatan strategi yang tepat. Terkadang, ada juga pemimpin yang ketika menghadapi masalah selalu terlihat uring-uringan, seolah-olah tak ada jalan keluar. Bahkan ada yang menghadapinya dengan masa bodoh. 
    Nah, kategori pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menjadi problem solving maker dalam berbagai masalah yang bermuara di lembaga yang dipimpinnya. Pemimpin haruslah menjadi icon sekaligus patron gerakan dalam lembaga, terutama dalam pengambilan keputusan dan problem solving. Terkadang, demi sebuah perubahan, konflik amat dibutuhkan. Bahkan keberadaannya dapat membesarkan lembaga. Tergantung manajemen si pemimpin dalam mengolah konflik yang ada. Manajemen yang baik akan menjadikan konflik bukan sebagai momok yang menakutkan. Justru akan membuahkan outpun yang manis dalam berlembaga. 
    Lembaga yang berjalan mulus dan aman-aman saja, bagi sebagian orang mungkin akan membosankan karena tak berdinamika. Aura negatif konflik harus mampu didesain sedemikian rupa agar dapat menjadi stimulus positif bagi lembaga. Kuncinya, tergantung si pemimpin sebagai problem solving maker yang bijak.
    "Cengeng", sebuah istilah yang amat pas bagi “si penakut” atau “si manja”. Istilah inipun cukup identik dengan kata "mengeluh". Sedikit ujian dan sentilan, maka yang tersirat adalah keluhan, bahkan tangisan. Ditambah lagi "manja", yakni julukan yang sangat cocok untuk seseorang yang selalu bergantung kepada orang lain, padahal ia dapat mengerjakannya sendiri tanpa perlu bantuan orang lain. 
    Kedua kata ini, memiliki kemiripan, tapi berbeda makna. Nah, untuk seorang pemimpin, sebaiknya tidak boleh memiliki sifat yang demikian. Alangkah lebih baiknya jika sifat cengeng dan manja ini disingkirkan, atau dikubur sedalam mungkin, bahkan di delete dalam kamus kehidupan. Pemimpin yang baik adalah sosok yang tak kenal lelah memperjuangkan kemaslahatan rakyatnya. Pantang menyerah, meskipun tantangan yang dihadapinya amat berat. Selain itu, pantangan untuk seorang pemimpin dihadapan bawahannya adalah tak boleh mengeluh apalagi berperilaku manja. Pemimpin harus memiliki mental yang kuat lahir maupun batin, tahan banting dan tangguh. 
    Tangguh merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan potret pemimpin yang memiliki semangat pantang menyerah, seberat apapun beban ujian yang dihadapi dalam kepemimpinannya. Tak dapat dipungkiri, tantangan dalam sebuah lembaga tentu bukanlah hal main-main. Bahkan sangat menguras tenaga dan fikiran. Bukannya tak boleh meneteskan airmata, hanya saja dalam menghadapi proses kepemimpinan, seorang pemimpin harus tetap terlihat tegar meskipun ternyata hatinya rapuh. Tidak boleh cengeng dan manja. Apalagi ketika mengalami kegagalan. 
    Kegagalan dalam sebuah lembaga bukanlah hal yang mustahil dan dapat ditemui dalam beberapa aspek, terutama kegagalan setelah melakukan perencanaan yang matang. Terkadang hasil tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Akan tetapi, dalam kondisi apapun, hikmah dari sebuah kegagalan harus mampu dipetik agar si pemimpin menjadi pribadi yang semakin tangguh. Gagal bukanlah batu sandungan. Akan tetapi, ia merupakan batu loncatan untuk meraih suksesi kepemimpinan di masa yang akan datang. 
    Terdapat perbedaan antara pemimpin yang cengeng dengan pemimpin yang tangguh jika diperhadapkan pada sebuah kegagalan. Jika gagal, pemimpin yang cengeng akan berkata "aku gagal, tak ada kesempatan lagi. Lebih baik aku mengakhirinya," sementara untuk pemimpin yang tangguh akan tetap optimis dan berkata "gagal bukan masalah. Aku akan mencobanya lagi." Kebangkitan setelah kegagalan adalah wujud ketangguhan si pemimpin dalam mengawal lembaga yang dipimpinnya.  Mental seorang pemimpin adalah mental tangguh, bukan mental cengeng nan manja, apalagi seorang penakut.

    Rindu adalah sebuah bentuk kegelisahan batin yang tak dapat terlihat dan hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Obatnya cukup sederhana, pertemuan. Jika seorang pemimpin ingin menjadi sosok yang selalu dirindukan, maka terlebih dahulu ia harus mengupayakan agar selalu disenangi oleh anggotanya. Dan untuk disenangi banyak orang tentu tergantung pada pola komunikasi dan pendekatan persuasif si pemimpin terhadap bawahannya. Bagaimana bisa ia dirindukan, sementara bawahannya tidak menyenanginya? 
    Terdapat 2 kemungkinan, jika seseorang telah dinobatkan sebagai pemimpin, maka ia akan disenangi atau dibenci. Begitulah pemimpin. Persepsi orang terhadapnya akan berbeda-beda. Tidak semua orang yang dipimpinnya mau menerima karakter dan kekurangan si pemimpin. Alasannya karena tuntutan untuk tampil perfect dan berwibawa kapan dan di manapun ia berada. 
    Manusia bukanlah mahluk sempurna dan pasti memiliki kekurangan. Menjadi pemimpin akan membuahkan banyak tuntutan, akan tetapi bukan berarti si pemimpin harus menjadi orang lain juga. Sehingga kata “be your self” sekejab mengilang dalam dirinya. Realita dalam sebuah kepemimpinan yang pernah penulis temui adalah bahwa hanya untuk menjaga image sebagai seorang pemimpin di hadapan bawahannya, sampai-sampai ia harus menjadi orang lain. Padahal untuk menjadi pemimpin yang selalu dirindukan, cukuplah menjadi diri sendiri. Seorang pemimpin hanya perlu menjelaskan melalui perilakunya, bahwa ia memang sosok yang pantas diterima apa adanya dan selalu dirindukan. 
    Pemimpin yang baik adalah dia yang memiliki kedekatan emosional dengan bawahannya. Dia yang selalu terbuka mengulurkan tangannya demi membantu meringankan beban orang lain. Kedekatan emosional amat dibutuhkan untuk menciptakan ikatan persaudaraan yang erat antara pemimpin dan bawahannya. Jika telah saling mengenal dan memahami satu sama lain, perlahan rasa kebersamaan itu akan terjalin. Menciptakan kebersamaan adalah penting, jika semangat itu telah menyatu dengan jiwa maka ketidakhadiran salah satu diantara mereka akan menghasilkan rindu, keharmonisan dalam berlembaga perlahan akan terwujud. Untuk menciptakan keharmonisan itu, si pemimpin tidak boleh membuat dinding yang dapat menjauhkan jarak antara dirinya dan bawahannya. Sekat itu harus diruntuhkan dalam sebuah kepemimpinan. 
    Yakin dan percaya, jika hal ini diaplikasikan dalam kepemimpinan, maka mereka akan saling merindukan satu sama lain jika tak saling bertemu. Si pemimpin rindu pada bawahannya dan bawahan rindu pada pemimpinnya. Satu orang saja yang sakit diantara mereka, maka semua akan merasakan sakit. Satu orang saja yang bahagia diantara mereka, maka semua akan merasakan bahagia. Kuncinya sangatlah sederhana. Rasa kebersamaan, persaudaraan dan solidaritas yang dimiliki seorang pemimpin akan menghantarkannya menjadi sosok yang selalu dirindukan. 
    Sangat jarang kita menemukan sosok pemimpin yang demikian. Bahkan terkadang, dalam sebuah lembaga, bawahan akan merasa bebas merdeka jika pemimpinnya tidak ada. Jika hal ini terjadi, si pemimpin harus introspeksi diri. Sebaliknya, jika dalam sehari saja si pemimpin tak bertemu dengan bawahan, lantas ia dicari-cari, ditanyai keberadaannya, bawahan merasa gelisah jika ia tak ada, ini merupakan salah satu indikator bahwa si pemimpin telah sukses menjadi sosok yang selalu dirindukan. Jika tidak, silahkan introspeksi diri, mengapa demikian.

    Salah satu modal utama untuk menjadi pemimpin adalah harus pandai beretorika, juga harus mampu menjadi pendengar yang baik. Terutama untuk para anggota/bawahannya. Anggota adalah penggerak dalam lembaga. Jika mereka sedang ditimpa musibah atau patah semangat, pasti akan mempengaruhi kinerja mereka dalam lembaga. Yang awalnya rajin, tiba-tiba menjadi malas, ada juga yang bawaannya murung atau uring-uringan. 
    Seorang pemimpin harus mampu mencerna dan mendeteksi keadaan para anggotanya. Ada apa dengan mereka? Jika seperti itu, artinya mereka bisa saja sedang memiliki masalah yang rumit, baik masalah dengan keluarga, sahabat atau bahkan masalah sesama pengurus lembaga. Di tengah persoalan yang seperti ini, pemimpin harus selalu menghadirkan dirinya dan memberikan solusi cerdas atas masalah yang dihadapi para anggotanya. Sekaligus membangun kembali semangat diantara mereka. 
    Oleh karena itu, seorang pemimpin tentu tidak boleh patah semangat. Jika semangat si pemimpin melemah, maka otomatis akan berdampak pada bawahannya. Nah, jika bawahannya yang kurang bersemangat dalam menjalankan amanah, seorang pemimpin harus mampu menjadi motivator yang baik dengan memberikan saran maupun motivasi-motivasi yang bersifat membangun. 
    Pemimpin yang baik harus selalu menebarkan benih-benih cinta dan semangat juang untuk bawahannya. Salah satu jalan yang bisa tempuh yakni dengan menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Jika seorang pemimpin telah mampu melakukan itu, perlahan pastinya setiap untaian kata yang terlontar sebagai kalimat motivasi akan mampu merasuki jiwa dan membangkitkan semangat bawahannya kembali. 
    Menjadi pemimpin tidak boleh egois. Hanya dia yang harus didengarkan dan tidak mau mendengarkan keluh kesah orang lain. Pemimpin harus peka melihat berbagai persoalan pribadi bawahannya. Jika dianggap terlalu ikut campur, yah memang seharusnya seperti itu. Pemimpin harus menjadi teman terbaik bagi orang-orang yang dipimpinnya agar mereka tidak kehilangan semangat atau merasa down dalam berlembaga. 

    Menjadi motivator yang baik, adalah bentuk kepedulian seorang pemimpin terhadap bawahannya. Pun jika tak ada solusi yang mampu diberikannya, minimal dengan menjadi pendengar yang baik, para anggota bisa merasakan eratnya hubungan emosional yang terjalin diantara mereka. Meskipun hanya bermodalkan kata-kata, dengan menjadi motivator, seorang pemimpin akan lebih dihargai.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: HOW ABOUT THE LEADER? Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top