728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, 12 October 2017

    IMMAWATI PROGRESIF REVOLUSIONER - ~I_Makkacici'~

    IMMAWATI PROGRESIF REVOLUSIONER
    ~I_Makkacici'~

    Seorang perempuan yang berfikir, akan mampu mengubah padang pasir menjadi kebun yang indah”

    A.    NAPAK TILAS SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN
    Berbagai peristiwa penting terkait perempuan selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Yah, di mediapun demikian. Perempuan selalu menjadi trending topic disetiap waktu dengan berbagai pemberitaan, mulai dari yang buruk hingga yang menginspirasi. Peristiwa di dunia ini tak pernah sepi dari peran seorang perempuan. Peran yang membawa manfaat maupun merugikan orang banyak. Setiap perempuan memiliki kesempatan dan kebebasan untuk memilih peran yang mulia demi menjalankan kehidupan yang bermanfaat bagi orang lain. Begitupun sebaliknya. Fakta telah banyak menunjukkan, jutaan perempuan pernah hidup sebagai tokoh utama perjalanan peradaban manusia. Sejak Sitti Hawa sampe R.A Kartini, dari Ratu Bilqis sampai ratu-ratu rumah tangga, ibu-ibu kita. Beliau semua adalah perempuan yang telah menjadi istimewa dengan beragam warna kehidupan yang ditorehkannya. 
    Setelah kebangkitan nasional, perjuangan kaum perempuan semakin terorganisir. Seiring dengan terbentuknya berbagai organisasi. Isu perjuangannya adalah pendidikan dan usaha penghapusan perdagangan perempuan. Sejak saat itu, organisasi perempuan semakin berkembang ditandai dengan semakin banyaknya jenis gerakan yang mampu membuka wawasan perempuan melampaui lingkup rumah tangga dan keluarga. Politik dan agamapun menjadi pokok perhatiannya. 
    Napak tilas sejarah pergerakan perempuan yang telah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional inspiratif. Seperti Cut Nyak Dien, yang telah terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan penjajah. Ia mengabdikan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan indonesia hingga akhir hayatnya. Malahayati, yang tak jauh berbeda dengan Cut Nyak Dien. Ia seorang tokoh perempuan yang tercatat dalam sejarah pernah memimpin 2000 pasukan perang yang terdiri janda-janda para pahlawan yang tewas di medan juang. Alhasil berkat perjuangannya, ia berhasil membunuh Cornelius De Houtman (seorang panglima perang belanda). Tak ketinggalan, R.A Kartini, sang pelopor dan pejuang pendidikan untuk kaum perempuan. Berkat jasanya, perempuan sampai hari ini mendapatkan kemerdekaannya untuk meraih pendidikan setingginya, serta membuka peluang dalam pekerjaan dan karir di dunia politik praktis. 
    Berkaca dari sejarah, immawati hari inipun harus mampu menjadi agent of change dan menjadi patron gerakan sosial kemasyarakatan diberbagai sendi kehidupan, sebagai wujud aplikasi dan implementasi trilogi gerakan IMM yakni kemasyarakatan (humanitas). Peran immawati yang cenderung pada gerakan kemanusiaan justru akan semakin menunjukkan progresifitas immawati sebagai mahluk sosial. Rasulullah SAW besabda :
    "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya." (HR. Bukhari).
     Immawati harus mampu memberikan sumbangsi kongkrit melalui prestasinya sebagai aktivis perempuan dengan menghibahkan diri untuk berbagi ilmu, tenaga, fikiran dan lain-lain. Selama usia masih muda, kesempatan emas terbuka. Immawati harus mampu mengeluarkan energinya untuk berkreasi demi kemaslahatan persyarikatan, ummat dan bangsanya.
    B.     REFLEKSI GERAKAN IMMAWATI (I)
    Islam adalah sistem kehidupan (system of life) yg menghantarkan manusia untuk memahami realitas kehidupan. Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah sebagai “rahmatan lil alamin”. Merupakan sebuah konsekwensi logis, apabila Allah SWT menciptakan seorang laki-laki maupun perempuan yang memiliki misi sebagai “khalifatullah fil ardh”. Kreasi atas laki-laki dan perempuan itu bertujuan untuk menyelamatkan dan memakmurkan alam. Dengan demikian, sebagaimana halnya laki-laki, perempuan dalam islam memiliki peran yang komprehensif dalam menempati posisi yang sejajar dengan laki-laki. Tanpa menafikkan kodratnya masing-masing. Perempuan yang tadinya dimitoskan sebagai pelengkap keinginan laki-laki tiba-tiba setara di hadapan Allah SWT dan mempunyai hak yang sama sebagai penghuni surga. Meskipun perlahan, tradisi yang mengesampingkan kaum perempuan kian terkikis.
    Berangkat dari hal itu, kaum perempuan memperoleh kemerdekaan dan suasana batin yg cerah, rasa percaya diri semakin kuat sehingga mampu mencatat prestasi gemilang bukan hanya dalam sektor domestik, juga sangat strategis di sektor publik dalam memperbaiki masyarakat, bangsa bahkan negara. 
    Persepsi tentang perempuan hari ini yang masih tertanam dalam mindset berfikir masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan amat susah untuk diubah. Perempuan adalah orang kelas dua yang seharusnya tinggal di rumah dan dinina bobokkan dengan consumer culture, hedonisme dan cengkraman kapitalisme. Perempuan tidak sepatutnya bergelut di dunia politik yang penuh dengan kekerasan dan permainan kekuasaan. Perempuan dinilai tidak mampu memimpin dan membuat kebijakan. Hal itu didasarkan karena perempuan amat mengutamakan perasaan sehingga jauh dari sikap rasional. Perempuan dipandang sebagai pemicu hubungan seksual terlarang, kehadiran mereka adalah sumber godaan (fitnah) dan memotivasi konflik sosial. Tugas perempuan hanyalah sebatas dapur, ranjang dan boneka kamar yang hanya dijadikan sebagai pelengkap keinginan laki-laki. Sehingga perempuan sangat diragukan dalam memimpin. 
    Dalam sebuah hadits disebutkan "tidak akan berhasil suatu bangsa yang menyerahkan urusannya pada perempuan." (HR. Bukhari). Hadits ini dipahami sebagai isyarat bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin dalam urusan yang mutlak seperti kepala negara. Oleh karena itu, Al-Kattabi mengatakan bahwa seorang perempuan tidak boleh menjadi khalifah. Demikian juga Al-Shaukani menafsirkan hadits ini dan berkata bahwa perempuan tidak boleh menjadi kepala negara. Sementara itu para ulama lainnya seperti Ibnu Hazm, Al-Gazali, Kamal Ibn Abi Syarif meskipun dengan alasan yang berbeda juga mensyaratkan bahwa laki-laki sebagai kepala negara. 
    Partisipasi politik perempuan. Menteri perberdayaan perempuan tahun 2012 mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi perempuan dalam sebuah organisasi tidak lebih dari 20% dari jumlah seluruh aktivis organisasi yang ada. Dalam sebuah kepemimpinan, tingkat presentase rata-rata, perempuan hanya menduduki posisi kurang strategis seperti bendahara atau bidang keperempuanan. Sementara dalam kepanitiaanpun demikian. Rata-rata perempuan hanya ditempatkan pada seksi konsumsi atau administrasi. Hanya sebagian kecil yang berada ditampuk pimpinan tertinggi.
    Padahal jika dikaji secara mendalam, perempuan adalah mahluk Tuhan juga seperti laki-laki. Sebagai hambaNya, ia juga memiliki tanggungjawab kemanusiaan, memakmurkan bumi dan mensejahterahkan manusia. Perempuan untuk tugas-tugas itu tidak dibedakan dengan laki-laki. Allah azza wajallah memberikan kepada laki-laki dan perempuan, potensi atau kemampuan untuk bertindak secara otonom yang diperlukan dalam menunaikan amanahnya. Partisipasi keduanya menjangkau seluruh dimensi kehidupan. Islam telah memberikan ruang pilihan bagi perempuan juga laki-laki untuk menjalani peran-peran politik publik, untuk menjadi cerdas dan terampil. 
    Sejar kenabian mencatat sejumlah perempuan yang ikut memainkan peran-peran ini bersama kaum laki-laki. Khadijah, Aisyah, Ummu Salamah dan para istri nabi yang lain, Fatimah (anak) dan Zainab (cucu) adalah perempuan-perempuan terkemuka dan cerdas. Mereka sering terlibat dalam diskusi-diskusi tentang tema sosial politik bahkan mengkritik kebijakan publik yg patriarkis. Ini menandakan bahwa kehadiran perempuan turut memperkuat barisan langkah kaum laki-laki. Mungkin saja kecerdasan kaum laki-laki di ranah politik semakin sempurna dikarenakan kehadiran kaum perempuan yang memotivasi di dalamnya. 
    Dalam konteks keindonesiaan Undang-Undang Parpol No. 2 tahun 2011 telah memberikan kuota 30% kepada kaum perempuan untuk menduduki jabatan politik di parlemen. Ini merupakan sebuah peluang bahkan tantangan bagi kaum perempuan untuk mengambil peran dalam pengambilan kebijakan. Adanya undang-undang tersebut tentu semakin menggugah semangat aktivis maupun akademisi perempuan untuk bertarung di ranah politik. Sebuah apresiasi yang sangat luar biasa bahwa perempuan hari ini dapat diperhitungkan dalam masalah kenegaraan. Oleh karena itu, tidak kalah pentingnya jika kader-kader IMM hari ini juga mampu bersaing dalam moment-moment politik. Moment politik bukan hanya pada tingkatan kepala daerah atau legislatif. Akan tetapi moment politik yang dimaksud adalah dimana kader-kader IMM khususnya immawati, kemudian mampu mengambil jabatan-jabatan strategis diberbagai level kepemimpinan organisasi. Terutama di IMM. Immawati harus mampu menempatkan dirinya pada posisi yang strategis dan tetap menjadi role model kepemimpinan yang progresif revolusioner.
    Sang Merah adalah organisasi dakwah, yang menuntut kita untuk menaati segala aturan dalam islam sesuai al-qur'an dan as-sunnah demi mencapai tujuannya yakni "mengusahakan terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah". Namun terkadang kita lupa, bahwa Sang Merah juga merupakan organisasi pergerakan mahasiswa, dan sebagai kader dalam organisasi tersebut, kita mengemban amanah untuk melaksanakan peran/fungsi mahasiswa sebagai agent of change, social of control dan moral force. 
    Realita hari ini, kader-kader Sang Merah, khususnya immawati banyak yang tidak memahami eksistensi pergerakan mahasiswa. Mereka terlalu pragmatis jika berbicara gerakan. Contoh kecilnya, penulis pernah bertanya kepada salah seorang immawati yang jenjang kekaderannya bukan lagi pada tataran DAD. Pertanyaannya sederhana, apa itu gender? Pertanyaan itupun dijawabnya, "gender is seks". Persoalan gender sudah menjadi perbincangan hangat, bahkan sudah tuntas dikaji oleh OKP lain. Sementara di immawati masih banyak yang tidak paham akan hal itu. Hal ini terjadi karena pragmatisme bahkan antipati immawati terhadap kajian-kajian yang demikian. Jika immawati masih “cuek” melihat persoalan ini, maka yakin dan percaya, immawati akan tertinggal dengan OKP lain. Bukannya ingin menafikkan bahwa kajian fiqih/adabul mar'ah/akhlak itu memang sangat penting untuk dikaji dan dituntaskan. Namun jika tidak diimbangi dengan kajian pergerakan, khususnya immawati maka kita hanya akan berjalan di tempat saja sementara OKP lain, mungkin sudah berjalan maju mendahului kita. 
    Immawati juga harus tampil sebagai kader-kader yang memahami strategi gerakan kemahasiswaan maupun kelembagaan dan gerakan perempuan. Mindset berfikir immawati harus diinstal, karena masalah gerakan bukan hanya perbincangan para immawan, immawatipun harus turut andil di dalamnya. 
    IMM bukanlah organisasi yang stagnut dan hanya eksis di internalnya saja. Akan tetapi IMMpun harus menunjukkan eksistensinya dihadapan OKP lain. Jika para perempuan di HTI telah mengkaji dan memahami perbandingan khilafah dan demokrasi, mengapa immawati tidak? Jika kohati di HMI, tuntas pada kajian pluralisme, liberalisme, gender dan lain-lain, mengapa immawati tidak? Bukankah kita adalah organisasi gerakan juga! Jika hari ini kita sebagai immawati tidak paham persoalan tersebut, apa yang akan kita jelaskan jika suatu saat kita dipertemukan dalam sebuah forum debat dengan aktivis perempuan dari OKP lain? Argumen apa yang akan kita sampaikan, sementara referensi kita masih sangat minim? Lalu, bagaimana caranya agar IMM dapat menunjukkan eksistensinya dihadapan OKP lain? Marilah kita renungkan bersama wahai para immawati. 
    Di suatu kesempatan penting, penulis pernah diajak oleh beberapa kakanda dalam diskusi di sebuah warkop dekat kampus. Inilah kali pertama penulis duduk bersama dengan petinggi-petinggi lembaga dari OKP lain. Kami duduk bersama dan membentuk forum diskusi santai, membincang kasuistik yang terjadi di negara kita saat itu. PMII, PPI, HMI, KAMMI, IMM dan beberapa organda, mereka saling berdebat dan melontarkan argumen-argumennya. Diantara pembicara tersebut, yang mendominasi perbincangan adalah IMM, karena mereka memahami strategi gerakan dan mampu memberi ide kreatif terkait problem yang terjadi. Setelah acara selesai, penulispun mendapat nasehat bahwa dalam berorganisasi, kapan dan dimanapun kita berada. Kita harus selalu tampil dan mengharumkan organisasi kita, agar organisasi yang kita geluti juga diperhitungkan oleh OKP lain. 
    Mengapa jika berbicara aksi demonstrasi atau orasi di jalanan, fikiran kita langsung tertuju kepada fakultas sospol saja? Bukankah kita adalah IMM? Immawan/immawati tidak boleh memetakan persoalan gerakan hanya karena memandang latar belakang fakultas/komisariatnya. Mindset inilah yang harus diubah dari sekarang. Khususnya di internal immawati, sudah saatnya immawati menampakkan tajihnya bukan hanya di internal tapi juga di eksternal IMM. Sudah waktunya immawati membekali dirinya dengan keberanian berbicara/berargumen bukan hanya di forum, juga di jalan. 
    Rasa tidak percaya diri yang dimiliki immawati, terlebih lagi jika berbicara gerakan mahasiswa atau lembaga ini terjadi karena kurangnya bekal dan referensi tentang hal tersebut. Terlebih lagi memang tidak ada ketertarikan maupun keinginan untuk mengetahui apalagi mendalami ilmu tentang strategi gerakan-gerakan perempuan, karena hal itu dianggap tidak penting dan hanya perlu dipahami oleh orang-orang tertentu. Misalnya saja, saya ini belajar di fakultas kesehatan, buat apa saya mendalami ilmu tentang pergerakan? Toh, tidak nyambung juga dengan fakultas saya!". 
    Paradigma inilah yang menghalangi immawati dalam melakukan gerakan-gerakan yang progresif. Berbicara organisasi, berbicara IMM, kita tidak hanya berbicara fakultas/komisariat saja. Terdapat hal yang amat penting untuk dipahami di luar komisariat kita. Terlebih lagi upaya untuk mengharumkan organisasi yang kita cintai di luar sana.
    Slogan "immawati untuk bangsa" mustahil terealisasi , jika hari ini immawati masih berfikir pragmatis dan tak mau merespon issue-issue kekinian dan melakukan gerakan perubahan terutama dalam mindset mereka. Saat ini, kader-kader IMM telah diunggulkan oleh OKP lain dari segi praktek spiritualnya. Sayangnya, dari segi intelektual tidaklah demikian. Oleh karena itu, sebagai immawati kita harus lebih membudayakan membaca dan memperbanyak kajian pergerakan sebagai upaya untuk menyeimbangkan kajian spiritual dan intelektual. Bukan hanya kader sospol yang harus dipahamkan tentang pergerakan. Secara universal, immawati dengan latar belakang fakultas non-sosialpun harus memahami itu, karena kita adalah IMM. Pun jika diantara immawati banyak yang tidak mau mengaplikasikan atau mengajarkan ilmunya, minimal mereka tahu, ketika ditanya perihal tersebut. 
    Marilah kita merefleksi kembali, kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri immawati, memperbanyak referensi dengan membaca dan membudayakan berdiskusi. Dengan jalan itu kita akan mendapatkan ilmu-ilmu baru sekaligus membuka jendela dunia dan melihatnya secara universal. Penulis meyakini, semangat membara itu kini ada digenggaman para immawati. Janganlah membuat Sang Merah menundukkan pandangannnya akibat malu dengan rendahnya kapasitas keilmuan yang immawati miliki, terutama terkait pergerakan tersebut. Sebaliknya, buatlah Sang Merah bangga karena memiliki immawati-immawati yang mampu mengharumkan namanya sampai ke pelosok negeri.
    D.    REAKTUALISASI TRI KOMPETENSI IMMAWATI
    Kebesaran ikatan, bukan karena kita terus memuja dan membendung pikiran kritis. Tetapi, justru karena keberanian kader-kadernya untuk berdialektika secara kritis dengan realitas yang terus berubah. Logika sejarah harus dibangun secara simultan dengan agenda perubahan zaman. Kader-kader IMM harus mampu melahirkan gagasan tentang rasionalisasi dan modernisasi dakwah di zaman sekarang. Ritual perjuangan IMM harus tetap menjadi spirit, agar intelektualitas tetap tumbuh dan menghasilkan kreativitas. Oleh karena itu, immawatipun harus mampu merumuskan formulasi gerakan ikatan dengan berfokus pada konsep trilogi gerakan sebagai landasan berfikir. 
    1. Intelektual 
    Immawati harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga, ketika diperhadapkan dengan organisasi lain maka ia mampu beradu wacana. Immawati harus terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru, sehingga tercipta kaum intelektual yang selalu bergerak dengan agenda perubahan dan pembaharuan. Selain itu, dasar intelektual immawati harus dibangun dalam bingkai leadership dan praksis sosial yang nyata dengan upaya yang tersistematis dan terstruktur. Bukan sekedar melanjutkan ide-ide lama melainkan harus diimbangi dengan kemampuan mendesain sistematika berfikir immawati. 
    2. Spiritual. 
    Immawati diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai religius yang implementasinya dalam bentuk aplikasi yakni beribadah kepada Allah SWT dan beri'tiba kepada Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Zaman yang semakin berkembang menuntut immawati agar mampu mengadopsi pengetahuan-pengetahuan baru untuk dikolaborasikan dengan nilai-nilai yang dianut sepanjang zamannya. Sebagai gerakan dakwah keagamaan, IMM seharusnya tidak hanya sekedar kembali pada romantisme sejarahnya, melainkan tradisi gerakan dakwah amar ma'ruf nahi mungkar itu harus mampu mereposisi peran kader-kader IMM dalam berbagai aktifitas keagamaan. 
    3. Humanitas. 
    Gerakan sosial bukan lagi dibangun dalam bentuk gerakan protes atau aksi massa. Melainkan harus lebih mengambil simpati rakyat bukan antipati. Gerakan sosial harus berbaur dengan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih universal sehingga gerakan lebih mengarah pada solidaritas sosial yang menyatu dengan public. Oleh karena itu, kader-kader IMM, tanpa terkecuali immawati dituntut untuk lebih peka dalam mengatasi masalah-masalah real yang dialami rakyat sebagai korban. Langkah selanjutnya adalalah melakukan transformasi sosial melalui jalur advokasi dan perlawanan terhadap kebijakan publik yang dianggap merugikan rakyat. Immawatipun sudah seharusnya mengambil peran yang demikian untuk memperjuangkan hak-hak perempuan yang tergadai karena keadaan bangsa dan Negara.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: IMMAWATI PROGRESIF REVOLUSIONER - ~I_Makkacici'~ Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top