728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, 12 October 2017

    ISLAM DAN KEBUDAYAAN DI TANAH CELEBES - (I_Makkacici’)

    ISLAM DAN KEBUDAYAAN DI TANAH CELEBES
    (I_Makkacici’)

    A.    CULTURAL INVESTATION
    Setiap daerah tentu memiliki kebudayaan yang berbeda. Kebudayaan memancarkan suatu ciri khas dari masyarakat suatu daerah yang tampak dari luar. Namun, perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan diberbagai bidang, termasuk budaya. Cepat atau lambat pergeseran nilai-nilai budaya yang dianut oleh kelompok sosial akan terjadi. Sehingga banyak masyarakat yang pragmatis bahkan tidak menghargai suatu kebudayaan. 
    Khususnya di kota Makassar yang dewasa ini semakin sesak, ramai, macet dan lain-lain. Tak ada lagi tanda-tanda keberadaan suku Makassar asli bermukim, karena kebanyakan penduduk yang kini menghuni kota Makassar adalah pendatang dari daerah lain. Sehingga untuk menemukan penduduk asli suku Makassar cukup sulit. Bahkan budayanyapun ikut tersembunyi. Makassar yang dulu memiliki kebudayaan yang unik seolah terkikis bahkan hilang di tengah-tengah perkembangan kota Makassar yang kini menjadi kota metropolitan. Kearifan budaya Makassar yang penuh makna dan mengandung pesan-pesan moral tak lagi berdendang indah ditengah kehidupan masyarakat. Kebanyakan masyarakat seolah tak peduli akan keberadaan budaya yang dijunjung tinggi oleh nenek moyang dan terpatrih dalam sanubari suku Makassar pada zaman sebelumnya. Budaya kini hanya sebatas nama. Padahal seyogyanya, budaya Makassar mengandung pesan moral yang perlu diterapkan dalam kehidupan. Terlebih lagi di tengah-tengah peradaban masyarakat yang semakin tak terkendali. 
    Sehingga timbullah sebuah pertanyaan, khususnya untuk para pemuda. Berapa banyak pemuda yang bangga akan budaya nenek moyangnya? Pertanyaan ini sepatutnya menjadi trending topic agar para pemuda menyadari betapa penting nilai-nilai budaya untuk dilestarikan karena budaya merupakan cultural investation yang sangat berarti untuk masa depan. Sungguh disayangkan jika saat ini banyak pemuda yang tidak bangga dengan budayanya. Pemuda seharusnya mampu menjadi agent penggerak untuk mengupayakan pelestarian dan pengenalan budaya. Agar para penerus bangsa tidak buta dengan budaya mereka. Khususnya di kota Makassar, budaya harus terus digemakan untuk menciptakan Makassar yang bermatabat. Pemuda  harus mampu mengangkat kembali nilai-nilai budaya Makassar yang terlupakan di tengah maraknya pergolakan budaya asing yang semakin kompleks di kota Makassar.

    B.     SIRI’ NA PACCE YANG TERLUPAKAN
    Mangkasara’ku
    (Black Mappaenteng)
    Apa lagi ini 
    mengapa sinrili Tuanta Salamaka diganti alunan rock & roll 
    mengapa ganrang bulo menjelma menjadi tabuhan ibanes 
    mengapa Aru Tubarania berbau kata sundala, kongkong, tampilo yang menyedihkan 
    lalu mengapa baju bodo gadis Makassar diformat
    hingga pusar dan belahan dadanya nampak dengan jelas 

    lalu adakah sosok I Mallombasi Daeng Mattawang 
    adakah sosok I Lo'mo Ri antang 
    adakah figur Karaeng Pattinngaloang 
    lalu di mana kutemui Makassarku yang dulu lagi 

    hilanglah semua  sebab gemulai gadisku tenggelam oleh tarian erotis 
    tunrung pakanjara' hilang di tanah para budayawan 
    siri' na pacce diganti dengan mantra anti hamil 

    perawan desa ditelanjangi di tengah kota 
    pemuda kerjanya mabuk dan berzina 
    lalu pantaskah Mangkasara'ku menyandang Kota Daeng? 

    Tak lagi didengar alunan ayat suci 
    tak kutemui lagi makna pasang tau toa 
    a'bulo sibatang hanyalah dongeng kaum kafir 
    kota budaya kini jadi kota setan 
    zamanku tak tahu esok jadi apa 

    bangkitlah tubarania 
    bangkitlah Tuanta Salamaka 
    bangkitlah tupaccea 
    paentengi siri'nu ri kampong tanganiaka siri'na 
      
    Punna tena siri'nu,paccenu seng paknia' (jika engkau tak memiliki siri', maka rasa pace dalam diri yang harus engkau munculkan). Siri' na pacce merupakan prinsip hidup bagi suku Makassar. Siri' digunakan untuk membela kehormatan dihadapan orang-orang yang ingin menjatuhkan harga diri seseorang. Sedangkan pacce digunakan untuk membantu sesama yang berada dalam penderitaan. Siri' na pacce adalah pandangan hidup yang harus dimiliki seseorang sebagai bentuk kepedulian sosial.
    Siri' adalah suatu sistem nilai social-cultural dan kepribadian yang merupakan pranata pertahanan harga diri dan martabat manusia sebagai individu dan anggota masyarakat. Siri' terdiri dari 4 macam yakni : 
    1.      Siri' dalam hal pelanggaran asusila.  
    Pelanggaran kesusilaan yang dikategorikan sebagai siri' adalah: kawin lari (assilariang), perzinahan, pemerkosaan, dan salimarak (perbuatan seks yang dilarang karena hubungan keluarga yang terlalu dekat, misalnya perkawinan antara ayah dengan putrinya atau ibu dengan putranya. 
    Diantara perbuatan asusila tersebut, maka salimarak merupakan pelanggaran terberat. Akibat perbuatan tersebut, dulunya para pelaku dapat dikenakan hukuman "niladung" yakni kedua pelaku dimasukkan ke dalam karung kemudian ditenggelamkan ke laut atau ke dalam air sampai mati. Sedangkan perzinahan, pemerkosaan dan kawin lari dapat diselesaikan dengan perkawinan secara adat ketika kedua belah pihak telah menyetujui atau mengadakan upacara "abbajik" (damai). 
    Sejak dulu sampai sekarang, oleh suku Makassar perbuatan asusila dianggap melanggarsiri'. Jika perbuatan asusila terjadi, pihak yang dipermalukan (tumassiri') berhak mengambil tindakan balasan kepada orang yang melanggar siri' (tumannyala).Anggapan bahwa siri' itu kejam atau jahat memang benar. Namun dibalik kekejaman itu tersimpan makna yang harus dimiliki oleh manusia terutama untuk menjaga harga dirinya. Lebih kejam mana, anak yang lahir tanpa ayah? Kemana merekaharus memanggil ayah?
    Perbuatan asusila, kumpul kebo alias free sex akan menjatuhkan harkat dan martabat manusia sebagai mahluk yang berakal bahkan lebih rendah daripada binatang. Hal inilah yang harus dicegah agar tidak membudaya di negara kita. Kehadiran budaya siri' ditengah-tengah masyarakat dapat dijadikan sebagai penangkal free sex tersebut.

    2.      Siri' sebagai motivasi dalam meraih sukses.  
    Jika orang lain bisa sukses mengapa kita tidak? Banyak anak Makassar yang lebih memilih merantau ke luar daerah untuk mencari jalan kesuksesannya. Bahkan seolah telah menjadi tradisi sejak dulu hingga sekarang. Setelah sampai di daerah yang mereka tuju, usaha dan kerja keras menjadi modal dalam meraih kesuksesan. 
    Salah satu syair lagu Makassar yang dipopulerkan oleh Anci Laricci' berbunyi:  "Takkunjungakbangung turuk nakugunciriki gulingku, kualleanna tallanga natoalia" (saya tak akan mengikuti angin buritan, lalu memutar kemudi, lebih baik tenggelam daripada putar haluan). Bagi anak rantau Makassar, meraih sukses di kampung orang adalah keharusan bahkan sebuah harga mati, tidak boleh tidak sukses. Alasannya, mereka akan malu jika pulang ke kampung halaman tanpa membawa hasil. Sehingga banyak jalan yang mereka tempuh untuk mewujudkan kesuksesan. Komitmen diawal perantauan itu pulalah yang dijalankan secara konsisten. Seberat apapun pahitnya hidup diperantauan, sekejam apapun kehidupan di kampung orang, mereka akan tetap bertahan karena memegang teguh siri'. 
    Demikian pula ungkapan yang berbunyi "Bajikanngangi mateya ri pakrasanganna taua nakanre gallang-gallang na ammotere' na tena wasselekna" (lebih baik mati dinegeri orang dimakan cacing tanah, daripada pulang tanpa hasil). Komitmen seperti ini akan memacu semangat kerja anak Makassar sekaligus sebagai motivasi untuk meraih sukses di perantauan. Jika mereka gagal dan kembali tanpa hasil,maka akibatnya mereka akan dicemoohkan oleh masyarakat di daerahnya, namun jika berhasil sukses maka ia dapat dijadikan teladan bagi masyarakat lainnya.

    3.      Siri' yang dapat berakibat kriminal. 
    Sebuah contoh kecil seperti menampar atau menghina seseorang di depan orang banyak. Tamparan dibalas tamparan, sehingga terjadi perkelahian bahkan dapat berakibat pembunuhan. Anggapan bahwa orang Makassar itu "pakbambangangi natolo" (cepat marah lagi bodoh) tidak sepenuhnya dapat dibenarkan karena tindakan balasan yang mereka lakukan, bukan karena bodoh. Hanya semata-mata ingin membela harga dirinya. Mereka marah karena harga dirinya direndahkan di depan umum, tapi bukan berarti bodoh.
    Jika harga diri orang Makassar direndahkan, otomatis mereka akan membalas. Tak peduli apa kata orang yang menilainya buruk atau melanggar aturan karena main hakim sendiri. Mereka memiliki istilah "eja tompi seng na doang" (setelah merah baru terbukti udang) artinya jika siri' dilanggar, maka tak ada kompromi meskipun nyawa menjadi taruhannya. Pun nanti akan berakibat fatal, itu urusan belakang. Itulah prinsip orang Makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi dari pada menjaga siri'nya, mereka lebih senang mati dari pada hidup tanpa siri'. Mati karena mempertahankan siri'  disebut dengan istilah "mate nigollai mate nisantangngi" yang berarti mati secara terhormat untuk mempertahankan harga diri.

    4.      Siri' yang berarti malu-malu (siri'-siri').
    Siri’ ini dapat berakibat negatif namun juga dapat berdampak positif terhadap seseorang. Misalnya jika seseorang ditunjuk sebagai MC dalam sebuah acara, kemudian ia menolak dengan alasan siri’-siri’ (malu-malu). Siri’ ini berakibat negatif karena dapat menghalangi bakat/kemampuan seseorang untuk memberanikan diri dan tampil di depan umum. Sebaliknya jika seseorang disuruh mencuri barang milik orang lain, kemudian ia menolak dengan alasan siri’-siri’(malu-malu) jika ketahuan nantinya. Siri’ ini justru berakibat positif.

    Demikianlah macam-macam siri’, yang bagi orang Makassar sangat perlu untuk ditegakkan karena akan meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Suatu prinsip bagi orang Makassar, terlebih lagi jika harga dirinya direndahkan. Tindakan balasan adalah hal yang mutlak, karena bagi mereka ‘’teai mangkasarak punna bokona lokok’’ (bukan orang Makassar jika belakangnya yang luka) artinya jika luka itu berada di bagian belakang berarti orang itu takut terhadap lawannya. Sebaliknya jika luka berada di bagian depan, itu menandakan keberanian terhadap lawannya.
    Sedangkan istilah pacce secara harfiah bermakna perasaan sedih dan perih yang dirasakan seseorang karena melihat penderitaan orang lain. Pacce merupakan sifat belas kasih dan perasaan menanggung beban penderitaan orang lain, Dalam istilah bahasa Indonesia "Ringan sama dijinjing berat sama dipikul". Pacce berfungsi sebagai alat penggalang persatuan, solidaritas, kebersamaan, dan rasa kemanusiaan. Pacce dapat memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta membina solidaritas sesame manusia untuk membantu orang-orang yang mengalami kesulitan.
    Siri’ na pacce inilah yang menjadi pola-pola tingkah laku orang Makassar dalam berpikir, merasa, bertindak, dan melaksanakan aktivitas dalam membangun dirinya menjadi seorang manusia yang bermartabat. Juga dalam hubungan sesama manusia dalam masyarakat. Siri’ na pacce  mengandung esensi nilai luhur yang universal namun kurang teraktualisasi secara sadar dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi masyarakat Makassar.
    Antara siri’ na pacce’ saling berhubungan, saling mengisi, dan tidak dapat dipisahkan yang satu dari lainnya. Namun realita yang terjadi, banyak orang yang menjunjung tinggi siri’namun tidak memiliki rasa pacce terhadap orang lain, begitupun sebaliknya. Pun salah satu diantaranya tidak dimiliki seseorang maka martabatnya masih akan terjaga. Namun jika siri’ na pace, keduanya sudah tidak ada lagi dalam diri seseorang maka mereka bisa lebih rendah dari binatang. Sebuah ungkapan Makassar berbunyi ‘’punna tena siri’nu paccea seng nipa’bulo sibatanngang’’ (jika engkau tidak memiliki siri’ maka biarkan rasa pacce yang menyatukan kita).


    C.    ISLAM MEMANDANG BUDAYA
    Ada yang berpendapat bahwa selama ini kehadiran agama telah menghancurkan kepribadian manusia. Manusia cenderung mengorbankan dirinya demi Tuhan. Apalagi ketika manusia berhadapan dengan kehendak Tuhan maka kehendaknya sendiri menjadi tak berdaya. Agama itu adalah islam. Tidak adanya pemahaman mendasar tentang agama islam membuat sebagian orang memiliki persepsi yang berbeda-beda dalam memandang islam sebagai rahmatan lil alamin. Untuk memahami islam maka kita harus memahami siapa Tuhannya, Rasulnya serta pribadi-pribadi yang pernah dibesarkannya.
    Islam mengajarkan bahwa di hadapan Allah SWT, manusia bukanlah mahluk yang rendah karena manusia adalah rekan Allah SWT serta pendukung amanahNya di muka bumi. Manusia mendapatkan kenikmatan serta menerima pelajaran dariNya dan menyaksikan betapa malaikat Allah jatuh bersujud di hadapanNya. Begitupun dengan manusia, mereka memikul beban dan tanggungjawab yang sama yakni bersujud kepada Allah SWT. Sebagaimana firmanNya dalam al-qur’an:
    ‘’Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepadaKu’’ (QS,adz-zariyat ayat 56).
    Islam tidak hanya berorientasi kepada kehidupan duniawi semata atau hanya kepada kehidupan akhirat saja. Islam mengajarkan bagaimana menjaga keseimbangan. Hanyalah dengan agama, manusia mampu melaksanakan tanggungjawabnya yang besar.
    Dewasa ini, keberadaan manusia sebagai pencipta sekaligus pengguna kebudayaan merupakan salah satu bukti bahwa manusia memiliki kemampuan yang besar baik dari segi akal, intelegensia maupun intuisi (perasaan dan emosi, kemauan, fantasi dan perilaku). Kebudayaan memiliki peran yang sangat kompleks terhadap kelangsungan hidup manusia. Kebudayaan merupakan wadah penyaluran perasaan dan kemampuan yang dimiliki manusia sekaligus sebagai pedoman dan petunjuk yang mengatur bagaimana manusia harus bertindak dan beperilaku di dalam pergaulan dan mengolah lingkungannya. Namun peran terpenting kebudayaan adalah sebagai pembeda antara manusia dan binatang. Manusia memiliki akal dan kemampuan untuk menciptakan kebudayaan sementara binatang, tidak.
    Kebudayaan yang berkembang dalam suatu wilayah, khususnya di Sulawesi-Selatan yang terkenal dengan julukan ‘’tanah celebes’’ ini terdiri dari 24 kabupaten/kota dengan berbagai suku dan budaya yang beraneka ragam bentuknya. Mulai dari bahasa, adat istiadat dan lain-lain. Masing-masing kebudayaan dan adat istiadat inilah yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat di daerah tertentu dan dianggap sebagai suatu ciri khas daerah lokal yang harus dipertahankan keberadaannya hingga akhir zaman. Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa kebudayaan bukanlah sebuah benda mati yang akan selalu stagnut dengan bentuk dan simbolnya. Kebudayaan adalah sistem nilai yang dapat berubah seiring dengan perkembangan zaman. Pengaruh lingkungan fisik menjadi salah satu pemicunya. Artinya akan terjadi pergeseran nilai ke depan. Era modernisasi dan globalisasi serta lingkungan diangap sebagai pemicu pergeseran nilai budaya yang akan terjadi.
    Berbagai konflik terkait kebudayaanpun tak terelakkan. Kerap kali kita melihat pertumpahan darah akibat konflik antar suku yang dapat kita saksikan diberbagai media elektronik maupun di media sosial yang tidak terselesaikan. Persoalan utamanya adalah budaya dan adat istiadat yang senantiasa dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. Bukan hanya itu, perkembangan zaman yang tak mampu dihindari mendorong terjadinya perubahan di segala bidang seperti politik, ekonomi, sosial termasuk budaya. Mau tidak mau, kebudayaan yang dianut suatu kelompok masyarakat akan bergeser. Cepat atau lambat, pergeseran inipun akan menimbulkan konflik antar kelompok. Ada yang menghendaki perubahan dengan alasan budaya yang mereka anut tidak sesuai lagi dengan zaman yang mereka hadapi saat ini. Sementara di sisi lain ada pula yang tidak menginginkan perubahan dengan alasan kebudayaan adalah tradisi yang harus terus dijalankan secara turun temurun.
    Islam dan kebudayaan keduanya merupakan sistem nilai namun memiliki makna yang berbeda. Kebudayaan adalah hasil ciptaan manusia dan bisa berubah-ubah seiring dengan perkembangan zaman. Sedangkan islam adalah sebuah keyakinan yang mengesakan Allah SWT serta memiliki pedoman mutlak yang tak dapat diganggu gugat karena datangnya dari Allah SWT. Kebudayaan berasal dari manusia sedangkan islam berasal dari Tuhan. Seyogyanya, adat-istiadat berpondasi pada sebuah keyakinan. Begitupun dengan islam. Keyakinan menjadi pondasi utama penganutnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak budaya yang mengandung nilai-nilai yang diajarkan oleh islam yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia. Etika, estetika, moral menjadi salah satu contoh betapa budaya selaras dengan pemahaman islam yang juga menjunjung tinggi nilai etika, estetika dan moral tersebut.
    Sementara di sisi lain, islam dan kebudayaan merupakan 2 hal yang tidak dapat disatukan. Banyak budaya yang kian melenceng dari agama islam namun tetap dipertahankan dengan alasan tradisi dan keyakinan. Namun islam yah islam, selama kebudayaan tidak melanggar atau menyalahi syariat islam maka kebudayaan itu boleh diaplikasikan dan dipertahankan. Akan tetapi, jika kebudayaan itu sudah melenceng dari syariat islam maka kebudayaan itu harus dihentikan meskipun itu merupakan tradisi turun temurun masyarakat setempat. Apapun alasannya islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari kebudayaan.
    Di zaman modern sekarang ini, banyak orang yang secara pragmatis sudah tak peduli lagi dengan budaya lokal. Para generasi mudapun kebanyakan buta akan budaya mereka sendiri yang lebih bermoral. Hal ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terkait budaya lokal yang dijunjung tinggi masyarakat setempat. Selain itu, pengadopsian budaya asing serta pengaruh teknologi di era globalisasi yang sedang melanda bangsa kitapun cukup mempengaruhi gaya berfikir masyarakat, khususnya para generasi muda. Sehingga bukanlah suatu hal yang mustahil bahwa dikemudian hari budaya lokal lambat laun akan hilang di tanah celebes yang kita cintai ini.

              Peran media sosial yang berkembang di kalangan generasi muda semakin mempengaruhi budaya serta paradigm berfikir kalangan masyarakat. Untuk itu, sebagai pengguna media sosial. Para generasi harus mampu menyaring hal-hal positif yang ditampilkan di media sosial diantara hal negatif lainnya.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: ISLAM DAN KEBUDAYAAN DI TANAH CELEBES - (I_Makkacici’) Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top