728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, 12 October 2017

    THE MASCULINE SPIRIT OF WOMAN Oleh: I_Makkacici’

    THE MASCULINE SPIRIT OF WOMAN
    Oleh: I_Makkacici’

    A.    JABEISME DI TUBUH PEREMPUAN

    Perempuan, ribuan kata tak akan cukup mengilustrasikan keindahan sosoknya. Ribuan buku yang terlahirpun tak akan cukup mengisahkan tentang mereka. Sebab lebih dari ribuan karya tercipta dari tangan lembut mereka. Terdapat ribuan ibu di luar sana dengan wajah yang merona, tersenyum simpul berbahagia serta berbangga memperkenalkan putri mereka sebagai sosok yang luar biasa. Perempuan adalah mahluk perasa. Terlahir dengan sifat kelemah lembutan, penuh perhatian, serta mengutamakan perasaan dibanding logika. Patutkan pernyataan itu dibenarkan? Ataukah hanya dogma turun temurun yang mencoba merasuki mindset berfikir masyarakat kita?
    Salah satu sifat yang identic melekat dalam diri perempuan adalah “Jabe”. Jabe merupakan salah satu ungkapan dalam bahasa bugis-makassar yang mengandung arti cengeng atau manja. Jika ditambahkan imbuhan “isme” yang dalam bahasa inggris berarti kepercayaan, maka menjadilah jabe sebagai sebuah paham. Kolaborasi yang apik, bahasa bugis Makassar-inggris yang cukup unik untuk kita kaji.
    Disadari atau tidak, paham jabeisme ini telah mencekoki mindset berfikir masyarakat. Bukan hanya dikalangan perempuan, juga bagi laki-laki. Masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan. Selalu beranggapan bahwa perempuan pada umumnya itu memiliki sifat cengeng, manja, lemah dan kasarnya lagi bermental kerupuk sebab tidak memiliki keberanian melebihi laki-laki. Mindset berfikir ini telah tertanam sejak zaman batu hingga zaman modern saat ini, di tengah kecanggihan teknologi dan informasi yang semakin maju. Pernyataan ini, seolah melemahkan kaum perempuan. Nada-nada ketidak adilan dalam status sosial, semakin mengudara dan merasuki jiwa-jiwa masyarakat kita. Sehingga banyak diantara perempuan yang seolah tak berterima, mencoba keluar dari zona nyaman mereka, untuk membuktikan apakah pernyataan tersebut benar atau salah? Perempuan selalu dianggap lemah dan dianggap tidak bisa. Padahal perempuan bukan mahluk selemah itu.
    Manja adalah sifal alami yang dimiliki perempuan pada umumnya. Tetapi, sifat manja ini, perlu dibatasi. Sifat manja, apalagi cengeng bukanlah sesuatu yang bagus untuk dipelihara dalam diri, karena sifat terlalu manja akan membuat seseorang terlalu bergantung kepada orang lain. Sedikit-sedikit orang lain, padahal dia sendiri sebenarnya memiliki kemampuan untuk berbuat lebih dan mengerjakan suatu hal secara mandiri. Pun, sifat manja tidak bisa dihilangkan. Minimal seorang perempuan harus mampu mengendalikan diri dan mengetahui posisi, dimana sifat manja itu harus ditempatkan dalam sebuah kondisi.
    B.     PEREMPUAN DAN KEMANDIRIAN BERFIKIR
    Sejak zaman R.A Kartini hingga saat ini. Perempuan masih menjadi mahluk yang di nomor duakan setelah laki-laki, secara strata sosial. Meskipun masyarakat beramai-ramai mendukung kesetaraan gender. Pada hakikanya, tak ada yang berubah. Dukungan tentang keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan hanya sampai pada ruang-ruang diskusi publik saja. Sementara di dunia nyata, perempuan masihlah mahluk nomor dua. Inilah faktanya.
    Pada hakikatnya, kaum perempuan tidak boleh menyalahkan keberadaan laki-laki dengan pemikiran mereka, atau menghakimi zaman dengan doktrin-doktrin yang ada. Yang sepatutnya disalahkan adalah perempuan itu sendiri. Perempuan masih saja terkungkung oleh dogma lama yang membuat mereka selalu merasa takut dan enggan mewujudkan mimpi. Sebab kebebasan mereka terkurung dalam pemikiran stereotypenya sendiri. Mereka tidak memiliki kemandirian dalam berfikir. Selalu merasa takut, merasa lemah, merasa bahwa masih ada orang yang lebih hebat dibandingkan mereka. Jika dogma ini masih menjadi landasan berfikir, sama halnya kemajuan perempuan dalam segala aspek, akan mustahil ditemui. Sebab mereka tidak memiliki kemajuan dari segi paradigma berfikir.
    Namun, tidak dapat di pungkiri, banyak diantara perempuan hebat yang mencoba mendobrak zamannya. Hal ini dilakukan sebagai usaha agar terlepas dari belenggu-belenggu sosial yang mencekik urat leher mereka. Belenggu-belenggu keterbatasan, keterkungkungan dan ketidak adilan. Di tengah zaman yang semakin gila, seorang perempuan membutuhkan tekad yang kuat disejajarkan dengan keberanian. Untuk melakukan hal-hal yang menurut pandangan masyarakat di luar kemampuan perempuan pada umumnya. Hanya perempuan hebatlah yang mampu melakukan dan menaklukkan zamannya. Perempuan seperti inilah yang dapat dikategorikan sebagai perempuan pemberani dan cerdas.
    Perempuan, harus membuktikan bahwa merekapun patut diperhitungkan sebagai manusia yang mampu mengubah dunia. Caranya, tergantung bagaimana seorang perempuan mampu menjadi tokoh inspirasi dan memberi kontribusi untuk kemajuan suatu kelompok masyarakat. Oleh karena itu, budaya jabeisme merupakan harga mati untuk dibuang jauh-jauh dari kehidupan perempuan. Bagaimana bisa seorang perempuan menjadi lebih maju jika yang diandalkan hanyalah tangan-tangan orang lain? Oleh karena itu, mulai saat ini dan di mulai dari diri sendiri. Perempuan harus terbebas dari paham jabeisme tersebut. Perempuan harus memiliki kemandirian berfikir dan tidak boleh gampang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang akan melemahkan pergerakan mereka.
    Sikap kemandirian menunjukkan bahwa perempuan bukanlah mahluk yang lemah tetapi, juga dapat diandalkan. Banyak diantara mereka yang telah membuktikan itu. Termasuk sosok ibu. Begitu banyak ibu-ibu hebat yang berhasil menciptakan generasi-generasi hebat, karena kecerdasan dan keberanian mereka dalam mendidik buah hatinya. Selain itu banyak diantaranya,  sosok perempuan yang telah mampu menjadi tulang punggung keluarga, mampu berprestasi dan menjadi tokoh inspirasi, hingga mampu memimpin sebuah lembaga mulai dari lembaga yang paling kecil hingga lembaga tertinggi di negeri ini. Bukan hanya itu, masih banyak sosok perempuan yang tak sempat tersorot lensa kamera, tetapi ide dan gagasannya yang cemerlang telah mampu menjadi tonggak pergerakan dan memajukan masyarakat dan bangsa.
    C.    FEMINIME ROLE VS MASCULINE SPIRIT
    Kehadiran perempuan di ranah publik bukanlah untuk menyaingi laki-laki. Apalagi hanya sekedar membuktikan bahwa mereka mampu menjadi seperti laki-laki. Perempuan yang mau mengorbankan tenaga, waktu, fikiran, jiwa dan raga untuk kemaslahatan masyarakat banyak tanpa meninggalkan tugas utama mereka. Ialah sosok perempuan yang telah berusaha keras untuk menjalankan perintah Allah SWT dan RasulNya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda : Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutsi). Jika laki-laki menjadi penghalang bagi perempuan untuk membuktikan eksistensi mereka di ranah publik dengan berbagai dalih keagamaan yang belum tuntas dikaji, berarti sama halnya mereka menghalangi sesamanya untuk berbuat baik. Dan menghalangi seseorang berbuat kebaikan berarti mereka sendiri telah berbuat dosa.
    Perempuan tidak perlu menjadi seperti laki-laki (menyerupai), jika ingin menjadi mahluk yang lebih berguna, seperti yang diharapkan. Misalnya menjadi pendidik, menafkahi keluarga, hingga terjun ke dunia politik, Terlebih, jika hanya ingin mengubah pandangan stereotype masyarakat tentang mereka. Perempuan anggun nan feminimpun dapat melakukan itu. Kali ini penulis mencoba menganalisa hasil pemikiran penulis sendiri, dengan mengganti sifat jabeisme seorang perempuan dengan masculine spirit (semangat maskulin).
    Masculine spirit adalah energi yang biasanya identik dengan laki-laki. Karena masculine spirit yang dimilikinya, laki-laki selalu merasa memiliki kemampuan lebih dan prima untuk melakukan pekerjaan seberat apapun itu. Terlebih jika di hadapan perempuan, yang menurutnya lebih lemah secara fisik dibanding mereka. Lantas, bagaimana dengan perempuan yang identik dengan sifat jabeisme-nya itu? Bagaimana dengan dandan? Haruskah perempuan meninggalkan itu semua, kemudian bergaya seperti laki-laki pada umumnya? Bagi penulis, dandanan dan gaya feminim perempuan bukanlah alasan yang akan mengahalangi segala kreatifitas dan pekerjaan. Masculine spirit harus tercover dalam satu tubuh dan menjadi jiwa bagi perempuan-perempuan tangguh. Perempuan tak perlu berdandan menyerupai laki-laki jika ingin diandalkan seperti mereka. Cukup dengan mewarisi energi yang menjadi sumber kekuatan mereka, yaitu masculine spirit-nya. Masculine spirit sebagai kekuatan perempuan bukanlah sebuah pemikiran kolot yang berusaha penulis sajikan. Bukan juga, untuk menunjukkan bahwa perempuan itu mampu menjadi mahluk yang garang. Perempuan dengan feminime role kemudian dibingkai dengan masculine spirit, akan terlihat lebih kuat dan lebih kharismatik. Sehingga predikat sebagai perempuan tangguh dapat di sandangnya.
    Sudah saatnya perempuan melek dan tidak menutup diri terhadap persoalan-persoalan masyarakat. Sudah saatnya kita menginstal pemikiran kita, lalu mengaktifkan chip yang baru. Gunanya untuk mengganti energi negative dengan energi yang lebih positif. Jika sifat jabe merupakan energy negative, maka sudah sepatutnya dihilangkan. Dan jika semangat maskulin adalah energy positif yang dapat kita terapkan, mengapa tidak kita mengintegrasikannya dalam diri pribadi masing-masing. Sangat perlu disadari, bahwa persoalan ummat dan bangsa bukan hanya urusan laki-laki. Perempuanpun harus ikut andil di dalamnya. Nasib suatu bangsa, bukan hanya ditentukan oleh satu tangan saja. Akan tetapi, kekuatan kebersamaan, persatuan dari semua stakeholder akan menjadi penentu ke depannya. Tanpa terkecuali perempuan. Perempuan yang cerdas, memiliki kemandirian berfikir, kuat, pemberani, tangguh serta dapat diandalkan. Adalah sosok yang amat dibutuhkan negeri ini. Untuk menjawab segala tantangan dan persoalan masyarakat, bangsa dan Negara.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: THE MASCULINE SPIRIT OF WOMAN Oleh: I_Makkacici’ Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top