728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, 23 November 2017

    Literasi sebagai Gaya Hidup

    Oleh: M. Ahsan Agussalim 
    (Sekretaris Umum PC IMM Kab. Gowa)

    Begitu banyak sebuah fenomena yang kita temui disekeliling kita mulai fenomena sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan budaya. namun sayang hanya terlewatkan secara naif dimata dan dipikiran kita. Dan parahnya tanpa sadar dan spontan kita utarakan melalui bentuk komentar yang terkadang juga tidak memiliki nilai solutif sehingga hanya menimbulkan masalah baru. Apalagi dizaman cybernetic ini, yang dimana sumber informasi (sosial media, media cetak, media elektronik dan sarana informasi lainnya) dengan liar tersiar dan tersiap secara apik untuk kemudian dikomentari dengan beragam asumsi positif atau negatif, sehingga betul-betul dibutuhkan sebuah kewaspadaan dalam mengungkapkan sedemikian rupa bentuk perkataan, pandangan atau asumsi kita dalam menanggapi seluruh permasalahan yang kita konsumsi melalui informasi yang relatif cukup membawa peluang permasalahan yang sangat kompleks.
    Maraknya aksi-aksi dan aktivitas sosial dalam bentuk gerakan literasi akhir-akhir ini menjadi salah satu tanda yang mencengangkan kepada umat manusia saat ini, bahwa kita telah hidup dizaman yang sangat mengkhawatirkan akan susahnya mendapat konsensus persatuan di tengah-tengah isu kemanusiaan yang disebabkan oleh propaganda yang menjelma dalam bentuk kabar-kabar panas, isu-isu miring, dan informasi negatif. Apalagi ditambah dengan pola hidup kita yang kurang beranimo untuk membaca, baik itu referensi, teori, dan lain sebagainya sebagai pondasi kita dalam membangun argumentasi itu sangatlah lemah persentasinya yakni 0,001% menurut surfei UNESCO. Dibanding negara-negara lain yang sudah sangat melek huruf (membaca buku). hal ini makin menampakkan cara kita menghadapi permasalahan yang ada khususnya kita, orang-orang di Indonesia berpotensi memicu perpecahan bangsa melalui argumentasi yang cukup emosional dan tidak ilmiah melalui komentar semberono dan serampangan.
    Ada syair dari kalangan tokoh islam yang kiranya sangat menarik untuk kita simak dan maknai, kurang lebih seperti ini “informasi/berita/pengetahuan ibarat hewan buruan dan ikatlah ia melalui sebuah tulisan”. ungkapan ini memiliki makna tersirat bahwa segala hal yang kita peroleh dalam bentuk informasi dan terkonstruk menjadi sebuah pengetahuan alangkah baiknya kita kaji dari berbagai aspek dengan memakai nalar positif kita untuk menciptakan sebuah solusi yang prefentif dan kita tuangkan dalam bentuk sebuah tulisan yang dewasa ini cukup menjadi representasi dalam memassifkan argumentasi kita secara fleksibel yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu dalam arti, baik tulisan itu melalui sebuah media sosial, secarik kertas, ataupun media informasi lainnya yang sifatnya serba cepat penyajiannya. Dibanding dengan berkomentar secara langsung terhadap suatu permasalahan cenderung membuat kita untuk bernafsu berkomentar sesuka hati tanpa ada cela untuk berfikir jernih, dibanding melalui proses penulisan yang kiranya memberi kita kesempatan dan ruang untuk mengkonstruk pandangan sejenak dan membangun komentar yang bijak dalam memprospek seseorang berfikir jernih dalam menanggapi sebuah isu-isu miring atau yang saat ini sering diistilahkan sebagai hoax.

    Disini penulis menganggap bahwa gerakan literasi atau gerakan menulis bisa menjadi salah satu langkah strategis dalam membendung lalu lintas informasi yang kian hari kian mengkhawatirkan. Dan tentu melalui media tulisan juga tidak hanya menjadi sebuah gerakan kultural saja, akan tetapi bisa kita internalisasikan sebagai gaya hidup untuk menghadapi dan mengantisipasi kecenderungan untuk membuat sebuah pertikaian dalam bentuk propaganda verbal. karena efektifitas dari sebuah gerakan literasi diyakini mampu memberikan sebuah pemurnian pandangan melalui bentuk asumsi teks yang tentunya juga harus berbanding lurus dengan berbagai pembacaan referensi atau literatur yang berkenaan dengan sebuah permasalah sebagai pondasi ilmiah agar tepat sasaran pemecahan masalahnya.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: Literasi sebagai Gaya Hidup Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top