728x90 AdSpace

  • Latest News

    Tuesday, 12 December 2017

    IMMawati, Perempuan Berkeadaban


    Oleh
    IMMawati Titi Yuniarti Usman

    Perempuan adalah satu pembahasan yang tidak pernah habis diperbincangkan di kalangan masyarakat terutama untuk kalangan masyarakat intelek. Perspektif negatif pun kerap kali mewarnai bahasan tentang perempuan. Sehingga dalam sejarah pergerakan di dunia melahirkan sebuah paham (ideologi) yang secara khusus memandang tentang hak & kewajiban perempuan yang musti diperjuangkan. Feminisme memandang bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti the main class (Laki-laki). Namun, dalam sejarah pergerakannya, paham ini kemudian justru mengantarkan kaum perempuan dalam belenggu kejahiliyahan kapitalisme dikarenakan tuntutan serta kemauan yang begitu keras dari suara suara perempuan atas kebebasan dan persamaan kelas sehingga nilai-nilai moralitas dalam diri seorang perempuan mengalami degradasi yang begitu merosot dan batasan bagi perempuan atas kaum pria pun telah musnah. Sehingga banyak perempuan hari ini yang justru “menjual” asetnya untuk memperkaya kaum pemodal.
    Membincang tentang perempuan tentu tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang perempuan dalam IMM, yaitu IMMawati. IMMawati, begitulah gelar tersebut melekat dalam sosok kader putri di tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Identitas daripada seorang IMMawati tidak terlepas dari nilai-nilai yang  diajarkan dalam Islam bersumber kepada Qur’an dan Al-hadits tentang eksistensi sosok perempuan dalam segala aspek kehidupan. Berangkat dari persoalan perempuan diatas, maka penulis memandang bahwa autokritik terhadap gerakan IMMawati pada dewasa inipun banyak menuntut evaluasi untuk kinerja IMMawati lebih baik kedepan. Peran IMMawati dalam IMMpun memiliki kesamaan hak dan kewajiban sebagaimana yang IMMawan miliki. Sehingga interpretasi seorang IMMawati menjadi pucuk pimpinan dalam struktural IMM  dapat disebut sebuah keniscayaan.
    Hal ini juga tidak terlepas dari tuntunan hadits Rasul sekaitan dengan kepemimpinan perempuan yang kemudian banyak menuai kontroversi. Namun, dalam epistimologi ke-Muhammadiyah-an bahwa, hadits yang menunjukkan konotasi tentang suatu kelompok yang dipimpin oleh perempuan akan celaka; dipandang perlu dipahami secara kontekstual. Sehingga kepemimpinan perempuan tidaklah menjadi hal yang salah dalam paham agama menurut Muhammadiyah. Dari dua opini berdasarkan realitas keilmuan diatas, penulis ingin memberikan pandangan secara personal tentang gerakan IMMawati yang diharapkan mampu menjadi tonggak penerus estafet perjuangan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Muhammadiyah pada khususnya serta Islam pada umumnya. Sosok IMMawati juga merupakan bagian daripada akademisi Islam yang berakhlak mulia sebagaimana yang tercantum dalam tujuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
    Berangkat dari interpretasi inilah, penulis merasa perlu membangun kembali kesadaran kepada IMMawati untuk benar-benar kembali kepada ruhnya sebagai pelopor nilai-nilai religiusitas, intelektualitas dan humanitas dalam lingkup kemahasiswaan. Kampus adalah salah satu wadah bagi seorang kader IMM dalam melakukan transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) kepada sesama mahasiswa sebagai masyarakat kampus. Artinya bahwa kader IMM, khususnya IMMawati pun tetap dituntut untuk senantiasa membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan dari berbagai lini disiplin ilmu. Dalam mewujudkan hal ini, satu hal yang tidak boleh pernah lepas dari dalam diri seorang IMMawati adalah gerakan cinta literasi yakni membaca dan menulis.
    Sebagaimana realita berbicara, hari ini sosok-sosok mahasiswa yang meramaikan kelompok diskusi di dalam kampus nampaknya sangat jarang atau bahkan sudah tidak pernah lagi menunjukkan sosok IMMawati sebagai salah seorang diantaranya. Kenyataan ini pun kemudian membentuk IMMawati yang “miskin” epistimologi sehingga lahirlah sikap apatis dan pragmatis dalam diri IMMawati. IMMawati seakan-akan menutup diri untuk tampil memberikan sumbangsi dalam mengawal regulasi kampus yang menyengsarakan sebagian mahasiswa yang berada dalam kondisi ekonomi menengah kebawah, enggan untuk turut aktif dalam organisasi intra yang mana justru menjadi aspek penunjang dalam strategi membumikan ideologi Muhammadiyah di kampus khususnya untuk kampus yang tidak memilik latar belakang Muhammadiyah (Non-PTM). Identitas inilah yang kemudian perlu diretas agar the true identity seorang IMMawati kembali menyatu, yakni Anggun dalam Moral serta Unggul dalam Intelektual.
    Dalam membangun keanggunan moralitas, maka satu hal yang selalu melekat dalam diri IMMawati adalah nilai-nilai religius dengan senantiasa mengamalkan transfer nilai (transfer of value) kepada masyarakat kampus dengan mengindahkan nilai Al-Qur’an dan Al-hadits. Keselarasan antara kemampuan intelektual dan spiritual harus senantiasa menjadi asas gerakan IMMawati. Dari sinilah solusi musti hadir atas berbagai persoalan menyangkut progres IMMawati dalam kancah keorganisasian.
    Di abad ke-XXI, manusia telah diperkenalkan dengan kemampuan teknologi dari masa ke masa yang mampu menunjang aktivitas kesehariannya. Sampailah kita di dimensi ruang dan waktu yang mana benar-benar diperhadapkan pada multifungsi teknologi utamanya pada perkembangan teknologi dalam bidang media dan komunikasi. Komputer, laptop, dan kini ada Smartphone yang di awal kemunculannya merupakan suatu barang yang dikategorikan sebagai barang mewah dan seiring berjalannya waktu kini tak lagi demikian. Hampir semua masyarakat mulai dari kalangan menengah keatas bahkan sampai menengah kebawah sudah dapat memiliki komputer/laptop atau bahkan smartphone. Hal ini tentu menjadi sinyal bahwa kehidupan manusia pun tidak bisa lepas dari kecanggihan teknologi yang memang mampu menjawab tantangan zaman hari ini.
    Sebut saja produksi teknologi yang paling banyak diminati oleh kalangan masyarakat saat ini yakni smartphone. Smartphone pun terus mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan manusia. Maraknya penggunaan smartphone pun memunculkan berbagai macam media sosial melalui online. Seperti facebook, twitter, instagram, whatsapp, BBM, dan lain-lain. Munculnya teknologi dalam kehidupan manusia tentulah membawa dampak positif maupun negatif. IMMawati sebagai salah satu komunitas keperempuanan juga mempunyai peran yang signifikan dalam mengawal perkembangan teknologi ini mengingat bahwa tidak sedikit korban cyber crime adalah kaum perempuan. IMMawatipun sepatutnya tidak ikut tergerus ke dalam arus teknologi yang cenderung membawa dampak negatif akan tetapi sebaliknya mampu menjadikan penggunaan teknologi sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat dengan salah satunya adalah menjadikan media sosial online sebagai ladang dakwah di era digital maupun era milenial seperti yang bisa kita rasakan hari ini. Ketika berbicara tentang era milenial artinya generasinya pun harus milenial. Artinya bahwa, generasi milenial itulah yang hasil karyanya akan selalu bermanfaat bahkan sampai ribuan tahun lamanya (amal jariyah).
     IMMawati mempunyai tugas yang berat hari ini karena harus mengawal diri pribadi begitupun sesama perempuan lainnya dalam menciptakan peradaban yang lebih berkeadaban. Maka dari itu, budaya baca tulis hari ini tidak lagi mesti dilakukan secara face to face melainkan media sosial online adalah alternatif yang sangat solutif dalam melebarkan sayap-sayap dakwah ke dalam kancah dunia.
    Untuknya itu, pembinaan akan penggunaan media sosial sangat diperlukan agar terciptanya nuansa dunia maya yang religius dan penuh dengan atmosfer keilmuan yang sangat mendukung kegiatan dakwah di era digital yang mana menuntut kita untuk berpartisipasi aktif dalam penggunaan teknologi dalam hal ini smartphone dan media sosial sebagai wadahnya.

    Penulis
    IMMawati Titi Yuniarti Usman
    Ketua Umum PC IMM kota Palopo 2017/2018
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comments:

    Item Reviewed: IMMawati, Perempuan Berkeadaban Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top