728x90 AdSpace

  • Latest News

    Thursday, 14 December 2017

    Korban Ganda


    Foto : Google victim

    Oleh: Ermansyah R. Hindi

    Sebelum konsumsi mencapai puncak kejayaannya, segalanya adalah produksi. Segalanya adalah mesin. Berkembangnya jumlah produksi pada abad ke-19 meminta tiga korban: alam, tanah jajahan, dan kelas pekerja (seringkali pula penganggur atau kaum  pinggiran) di negeri kita. Tetapi, sekarang memakan empat korban: (i) alam; (ii) privatisasi; (iii) masyarakat konsumen-citra/fantasi media; dan (iv) tenaga kerja. Di negara-negara kaya-industri maju, dimana standar hidup sebagian besar masyarakat telah cukup tinggi, pada saat ini tinggal dua korban: (i) alam; dan (ii) Dunia Ketiga, yang sekarang masih dan sedang dalam proses penjajahan ekonomi-di bawah bayang-bayang sistem ekonomi kapitalisme global. Sebagai sebuah sistem (tanda, kode), kapitalisme bersumber pada energinya sendiri, bukan pada kekuatan buruh, secara fisik (sistem itu tidaklah terisolasi). Sebagai figur, kapitalisme mendapatkan kekuatannya dari gagasan dan hasrat ketidakterhinggaan. Ia bisa muncul dalam kehidupan, kekuasaan dan kesenangan yang sekarang sebagai model yang ditiru oleh Dunia Ketiga.

    Korban berjatuhan, karena di sini kelinglungan datang dari jalannya sejarah itu sendiri. Jean Francois Lyotard (The Posmodern Condition: A Report on Knowledge, Univetsity of Minnesota Press, Minneapolis, 1984) telah mengumandangkan pudarnya semua narasi besar (Kapitalisme dan Sosialisme sama saja). Untuk alasan inilah kelas pekerja telah menjadi manusia seperti lainnya dikontrol oleh kekuasaan bersama oligarki politik-ekonomi dan diinternalisasikan bukan hanya korban citra, tetapi lebih mentransformasikan dirinya sendiri kedalam citra dengan produksi yang melimpah-ruah. Perjuangan buruh melawan pemilik perusahaan telah diredusir menjadi perjuangan simbolik untuk memperoleh pekerjaan dan upah serta kondisi kerja yang lebih baik. Sistem seperti itu tidak dipertanyakan lagi: ketergantungan fundamental para pekerja terhadap modal, sungguh memperkuat dominasi modal pada para pekerja. Kini, relasi kaum pekerja-produser telah dideteritorialkan berdasarkan: (i) privatisasi tanah; (ii) penciptaan instrumen produksi; (iii) hilangnya makna konsumsi melalui pemutusan ikatan keluarga dan perusahaan; dan (iv) pembelas-kasihan kerja dirinya sendiri melebihi pekerja. Langkah berikut dalam proses "kemajuan" di sepanjang jalan "produktivisme" akan mirip dengan kemajuan penduduk pasca Perang Dingin (terutama eks Eropa Timur, Rusia dan bahkan RRC) dan Dunia Ketiga terutama melalui barang komoditas. Tetapi, alam, bagaimanapun juga tidak akan dapat bertahan hidup. Kenyataannya, alam tidak akan bisa bertahan dengan beban yang ditimpakan di atasnya oleh negara-negara kaya-industri kapitalis maju dan negara-negara industri baru. Tampaknya terjadi bahwa perusahaan besar dan multinasional sedang mempelopori perubahan arus bunga utang masa kini dari Selatan (termasuk Indonesia) ke Utara. Produksi memerlukan penjualan-pemasaran dan karena itu juga memerlukan daya beli sebagaimana telah kita ketahui.


    Kita segera mengharapkan permohonan Kelompok Hijau dan para "Pembela Dunia Ketiga" untuk lebih banyak bantuan dari Utara ke Selatan (baik secara suka rela maupun yang dipaksakan) melalui perdagangan dan "pinjaman-utang luar negeri" sekaligus memperpanjang perangkap korban Dunia Ketiga darinya. Yang pasti, bahwa kemiskinan menemukan dirinya sendiri yang diproduksi oleh dua hal: (i) eksploitasi; dan (ii) marjinalisasi atau ketergantungan. Poros Timur-Barat di lain sisi, harus juga diakui bahwa kontradiksi mendasar sedang terjadi melalui mode produksi kapitalis yang terintegrasi saat ini pada skala dunia disalurkan secara simbolik antara Utara dan Selatan. Dunia Ketiga masih berada sebagai "korban permanen" karena "korban imajinasi revolusioner" terlalu lambat datang padanya melalui masyarakat konsumen yang semakin memparah kemiskinan dan ketergantungannya pada kekuatan Kapitalisme Dunia yang Terintegrasi (kemiripan pada kecenderungan Pemerintah Pusat dan Daerah). Bayangkan apa yang bakal kita perjuangkan disini sebagai korban apabila "kue nasional" tidak bisa diperbesar lagi atau bahkan harus diperkecil.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 comments:

    1. Tulisan ini hasil plagiasi dari buku Revolusi Ekonomi-nya Willem Hoogendijk terbitan yayasan Obor terbitan 1996. Buka saja di link ini: https://books.google.co.id/books?id=57U6dn_4fi0C&pg=PA46&lpg=PA46&dq=Kelompok+Hijau+dan+para+%22Pembela+Dunia+Ketiga%22+untuk+lebih+banyak+bantuan+dari+Utara+ke+Selatan&source=bl&ots=xE69Rjg7aK&sig=ACfU3U3RgR8Em-7okivfXjGgkYRBhTl67w&hl=id&sa=X&ved=2ahUKEwiF6KenxJ3pAhUESX0KHSBSCxwQ6AEwAHoECAQQAQ#v=onepage&q=Kelompok%20Hijau%20dan%20para%20%22Pembela%20Dunia%20Ketiga%22%20untuk%20lebih%20banyak%20bantuan%20dari%20Utara%20ke%20Selatan&f=false

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Korban Ganda Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top