728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, 16 April 2018

    Refleksi Isra’ Mi’raj Muhammad SAW dengan Kesadaran #2019GantiPresiden


    Oleh: Abdul Gafur Ibrahim
    (Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Sulsel 2018-2020)


    DPDIMMSULSEL.OR.ID -- “Dan hendaklah diantara ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” Ali Imran : 104
    “Agama ini diperuntukkan bagi realita agar menjadi timbangan mana yang harus ditetapkan dan mana yang harus dibatalkan, Ia juga datang untuk mendirikan suatu kehidupan baru, walaupun tidak disenangi” (Sayyid Qutb)

    “sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi)” An Najm : 9

    Isra’ Mi’raj adalah perjalanan (diperjalankan) malam hari Rasulullah SAW dari masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Al Aqsa (Yerussalem) kemudian dilanjutkan menuju langit ke Sidratul Muntaha untuk menerima wahyu dari Allas SWT kisah ini terjadi antara tahun 620 – 621 M, bertepatan tanggal 27 Rajab pada tahun ke-10 kenabian meskipun ada beberapa pendapat yang berbeda. tentunya ada banyak arti, makna dan hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Sebagai sebuah perjalanan yang menapaki realitas demi realitas hingga sampai pada realitas tertinggi yakni realitas Ilahiah, perjalanan yang dimulia dengan realitas duniawi yang bersifat horizontal sampai pada perjalan yang memperlihatkan realitas ukhrawi yang berdimensi vertical.

    Perjalan tersebut tentu kita semua telah mengetahui bahwa Rasulullah SAW tidak tinggal pada realitas ukhrawi tetapi segera kembali ke bumi menjadi khalifah Allah untuk menebarkan segala kebaikan dan RahmatNya dengan Shalat sebagai bekal utamanya, hal ini tentu bertentangan dengan beberapa pandangan dalam tradisi sufistik, yang mana jika kita ingin mengambil pelajaran dari perjalan tersebut ada visi yang berdimensi horizontal selain visi dengan dimensi vertical sebagaimana perintah sholat untuk menumbuhkan kesalehan sosial yaitu menjauhkan kita dari perbuatan keji dan munkar.

    Perjumpaan dengan Tuhan merupakan cita-cita tertinggi dalam ranah sufistik yang mana akan membuat pelakunya “mabuk” dalam ke”intim”annya bersama Tuhan dalam transendensiNya dan ketidakterbatasanNya sehingga ia kerap hanyat dalam ekstase yang bukan hanya menjadikannya lupa atas dunia dan manusianya namun bahkan lupa pada dirinya, Muhammad Iqbal menuliskaknya dalam sebuah kalimat “Muhammad dari Arabia itu naik ke langit tertinggi dan kembali, Demi Allah jika aku seperti dia tentu aku takkan mau kembali” yang intinya butuh sebuah kesadaran bahwa kesempurnaan tidak hanya bisa digapai dilangit namun juga di bumi, simbolisasi Isra’ Mi’raj mempertegas bahwa persoalan visi horizontal dan visi vertical, persoalan duniawi dan ukrawi, persoalan bumi dan langit dan satu kesatuan yang utuh untuk mengantarkan manusia pada titik kesempurnaannya.

    Dalam tulisan ini tentu tidak bertujuan untuk masuk pada ranah perdebatan terkait apakah Isra’ Mi’raj berjenis fiksi atau realitas dan sebagainya sebagaimana diskursus dimasyarakat beberapa waktu terakhir juga tidak pada wilayah mendiskusikan secara sains empiris akan tetapi mencoba mengarahkan bagaimana mengambil sebuah pelajaran penting dari kisah imaginer dan fantastis itu dalam tafsiran sosial kontemporer (tafsir kritis kontekstual), dimana isra’ mi’raj dalam kaitannya dengan kehidupan millennial dewasa ini, berangkat dari pemahaman itu bagaimana menjadikan demokrasi itu mampu mensejahterakan rakyat, membawa keadilan sosial dan memberdayakan warga secara beradab.

    Manifestasi kehidupan berbangsa dan bernegara tentu tidak bisa mendikotomikan unsure teologis selain hal tersebut menjadi poin utama dalam falsafah Negara kita, nilai –nilai teologis juga mampu dipahami secara kontekstual dalam melihat berbagai dinamika kebangsaan kita. Beberapa waktu terakhir realitas berbangsa kita sedang berada pada diskursus tentang bagaimana arah dan masa depan bangsa yang mana salah satu pendekatan untuk mengatar bangsa ini kearah yang telah dicita-citakan adalah melului proses pesta demokrasi yaitu pemilihan umum.

    Diskursus politik sudah mulai memanas, kelompok-kelompok kepentingan sudah mulai memainkan wacana seperti apa arah bangsa kedepan dalam menghadai pesta demokrasi, seperti yang viral antara kelompok oposisi dengan hastag #2019GantiPresiden yang kemudian dengan segera ditanggapi oleh kubu penguasa dengan membangun opini public tentang #Jokowi2Periode, berbagai diskursus politik tersebutlah harusnya pendekatan tidak hanya berada pada wilayah tercapainya kepentingan suatu kelompok akan tetapi lebih jauh dari itu, disinilah pesan inspiratif isra’ mi’raj Rasulullah SAW dapat menjadi alat analisis untuk menentukan masa depan bangsa yang kita cintai ini.

    #2019GantiPresiden tidak hanya menjadi wacana public yang menjadi opini yang dicipta oleh kepentingan pihak oposisi akan tetapi pengkajiannya harus sampai pada kesadaran transcendental bahwa realitas kepemimpinan nasional kita saat ini tidak mampu menjawab berbagai persoalan yang ada bahkan sebaliknya persoalan-persoalan baru bermunculan. Logika yang dimunculkan tidak boleh berdasarkan karena kebencian atau sekedar kerena perbedaan faksi politik cukuplah itu menjadi diskursus para politisi, akan tetapi kelomompok Ummat harus membangun diskursus tentang kesalehan sosial bahwa apa yang dilakukan dan dipertontonkan oleh penguasa hari ini tidak sesuai dengan nilai-nilai keberagamaan kita dan sudah pasti bertentangan dengan cita-cita berbangsa dan bernegara kita.

    Ummat harus menyadari bahwa atas realitas tersebut kita mempunyai tanggung jawab untuk terlibat dan berperan penting dalam menyelesaikan setiap persoalan kebengsaan yang ada olehnya itu momentum politik pesta demokrasi merupakan pendekatan yang bisa dimaksimalkan untuk mengubah berbagai kondisi ketimpangan yang terjadi karena dibalik semua itu ada dosa sosial bagi kita jika terus membiarkan keadaan tersebut berlangsung.

    Akhirnya pesan inspiratif dari perjalanan isra’ mi’raj Muhammad SAW harus kita bumikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita, kelompok ummat, ulama, cendekiawan muslim dan semua komponen Islam harus bergerak secara massif bahkan harus menampilkan diri untuk mejadi solusi atas krisis kebangsaan yang kita alami, sudah waktunya untuk keluar melihat dan menjawab realitas sosial yang terjadi. Momentum politik pesta demokrasi harus dimanfaatkan sebagai upaya keluar dari krisis multidimensi yang dihadapi. Tokoh Islam harus berani medeklarasikan diri untuk merebut kepemimpinan nasional tidak hanya berdiam diri dan asyik menikmati ke”Intim”an dengan Tuhan.

    “Sebagai hadiah malaikat menanyakan, apakah aku ingin berjalan di atas mega, dan aku menolaknya karena kakiku masih di bumi, sampai kejahatan terakhir dimusnahkan, sampai dhuafa dan mustad’afin diangkat Tuhan dari penderitaan” (Kuntowijoyo, Ma’rifat Daun Daun Ma’rifat)

    “bila seorang penguasa mati dalam keadaan sedang mengkhianati rakyatnya Allah akan mengharamkan baginya surga” Rasulullah SAW (*)

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: Refleksi Isra’ Mi’raj Muhammad SAW dengan Kesadaran #2019GantiPresiden Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top