728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, 20 August 2018

    Belajar dari Ibrahim dan Ismail



    Oleh: Abdul Ghani (Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPD IMM Sulsel)

    DPDIMMSULSEL.OR.ID -- Dihadapan yang diCinta, maka aku tak penting lagi
    Yang penting adalah Dia
    Dihadapan yang dicinta, inginku tak ada lagi
    Yang ada adalah inginNya
    Apapun yang aku ingini maka harusku tanggalkan 
    Sebagai bukti cinta kepadanya

    Itulah Ibrahim, 
    Ia harus menjalankan perintah untuk menyembelih puteranya Ismail.
    Yang diminta untuk disembelih bukan ismailnya,
    Tapi kecintaannya yang begitu besar kepada Ismaillah yang ia harus sembelih.
    apapun tak boleh menjadi penyaing dalam meraih cintanya.

    Terjadi pertarungan jiwa antara sang Nabi dan sang Ayah.
    Maka Ibrahim sebagai Nabi menang atas Ibrahim sebagai Ayah.
    Ibrahim berhasil membuktikan cintanya pada Tuhannya

    Dari Ibrahim kita belajar meletakkan cinta pada Tuhan sebagai cinta yang berada diatas segalanya.
    Dari Ismail kita belajar kerendahan hati dan kesabaran atas kehendak Tuhan.
    Dari Ibrahim dan Ismail kita mengerti 
    Allah akan menjadikan jalan keluar bagi mereka yang berserah diri kepadanya

    Rahmat Tuhan teramat luas, tak terjangkau oleh hitungan manusia.
    Matematika manusia begitu sederhana, dimana satu ditambah satu adalah dua,
    Dua dibagi dua adalah satu.
    Namun dihadapan sang pengasih, meski dari rusuk Adam terlahir banyak manusia
    Maka kasihnya tak berkurang kepada masing-masing makhluq, meski milyaran banyaknya ciptaan.

    Terbakar adalah keniscayaan jika dibakar,,
    Sebagaimana Mati juga adalah keniscayaan jika disembelih,,
    Namun,, Itulah pengetahuan manusia..
    dihadapan mukjizat, hukum alam jadi tak berdaya
    karena Kasih sayang dan rahmatnya teramat besar,, 
    dimana penyebab dan akibat lain tak berlaku lagi
      
    Mencintai Sang penggenggam Cinta bagi manusia mesti diposisikan pada peringkat yang utama, sebagaimana cinta Ibrahim disisi Tuhannya.
    Segala gerak semesta harus bermuara untuk meraih ridhaNya.

    Selamat Hari Raya Id- Adha Id-Qurban 10 Dzul hijjah 1439 hijriyah
    Disamping menyembelih hewan qurban sebagai symbol,
    Yang terpenting adalah menyembelih segala kecintaan lahiriyah.
    Menyembelih segala keegoisan, segala kebuasan, dan keAkuan,
    Sebagaimana pelajaran yang dicontohkan sang bapak Tauhid Ibrahim dan puteranya Ismail
        
    Allahu Akbar,,
    Allahu akbar sebagai pengakuan
    Tak ada yang paling diagungkan karena dialah Sang Maha Agung
    Allahu akbar sebagai pengakuan
    Tak ada yang lebih dibesarkan karena Dialah Sang Maha Besar
    Maka lailaha tak ada sesembahan
    Illallah Karena hanya ialah sebenarnya sembahan
    Dialah Allah satu-satunya Ilah..
    Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar,,
    lailah illallahu allahu akbar

    ..wallahu Alam..
    Renungan malam..
    Abdul Ghani, Makassar, 21 Agustus 2018
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: Belajar dari Ibrahim dan Ismail Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top