728x90 AdSpace

  • Latest News

    Saturday, 18 August 2018

    Menghayati Kemerdekaan sebagai Autokritik atas Individu



    Oleh: Abd Ghani (Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan DPD IMM Sulsel)

    DPDIMMSULSEL.OR.ID -- 17 agustus 1945 - 17 agustus 2018, genaplah 73 tahun kemerdekaan NKRI.  dari tahun ke tahun selalu kita rayakan kemerdekaan itu dalam berbagai event, sejenak kita tengok diri kita dalam kehidupan bermasyarakat, sudahkan kita menghayati kemerdekaan ini dengan sikap yang merdeka pula.

    Para pendiri bangsa merebut kemerdekaan dengan darah, mempertahankan dengan nyawa, dan kemerdekaan diperoleh lalu diperuntukkan untuk kita sebagai hadiah. Yang kemudian kehormatan itu kita nikmati dengan Cuma-Cuma, asyik bukan..!!

    Hidup kita sangat enak, tidak lagi angkat senjata, namun dibalik itu apa yang kita dapat berikan untuk menghormati jasa para pahlawan.? Bukankah dalam islam diajarkan, jika engkau dihormati dengan sebuah penghormatan, maka balaslah dengan penghormatan yang lebih baik, atau jika tidak sanggup maka paling tidak balasannya mesti setimpal.

    Upacara bendara sebagai bentuk penghormatan tentu belum sebanding dengan perjalanan panjang dari perjuangan bung karno, dan bung hatta dalam memproklamirkan kemerdekaan, serta perumusan konsep dasar Negara. Juga bagaimana sang pahlawan tangguh Bung Tomo dengan pidatonya yang mampu membakar semangat para pejuang Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan. yang hari ini kita kenang dengan perjuangan 10 november 1945. Dan para pahlawan-pahlawan lain yang telah syahid dalam medan pertempuran.

    Didepan, kita hormat menjunjung merah putih, tapi dibelakang, perilaku kita tidak jarang bertentangan dengan nilai luhur kemerdekaan. Kita menghormati pancasila sebagai symbol persatuan , tapi tidak jarang kita lebih menyukai perpecah-belahan yang membawa pada pertikaian, persatuan kita masih terjajah atas fanatisme kelompok dan kepentingan.

    28 oktober kita memperingati sumpah pemuda, tapi dalam tingkah laku, hari ini sumpah itu tidak jarang dikhianati oleh kaum muda itu sendiri secara moral. Bukan hal yang asing kita jumpai, Murid memperlakukan guru secara tidak hormat dan tidak bermoral, hanya dikarenakan mendapat hukuman yang wajar dari guru atas kesalahan yang murid perbuat, dan anehnya tindakan semacam itu dilakukan atas dasar merasa mendapat posisi dihadapan Undang-Undang Perlindungan anak. Bukankah orang tua kita dulu orang- orang yang dididik dengan keras, dipukulpun tak apa asal muridnya bisa dan kelak menjadi Orang. dihari ini pemandangannya menjadi sedikit terbalik, Moral anak muda belum merdeka atas tindakan Immoralitas.

    Betul kita sudah merdeka secara kolonial namun sudahkah kita memerdekakan diri dari keterjebakan individual..? Kita menghendaki keadilan namun sudahkah kita berlaku adil atas hal-hal paling kecil..? Kita menghendaki kejujuran namun sudahkan kita jujur terhadap diri kita sendiri diatas kertas ketika kita ujian tampa melibatkan alat bantu..?

    Kita menuntut sebuah bangsa yang bermoral,! tidak korup dan tidak memakan hak rakyat,.! namun disisi lain ketika kita buang sampah sembarang tempat, menerobos lampu merah disaat sunyi, itulah awal tindakan immoral, mengambil hak orang lain secara tidak adil..  Kita menyalahkan institusi yang lebih besar atas perilaku immoral, disaat yang sama benih immoralitas justru kita lakukan, yang pada saatnya nanti ia akan menaiki jenjang yang lebih tinggi ketika kita mengganggantikan posisi mereka yang hari ini kita salah-salahkan, maka mereka yang hari ini kita kritik justru kritikan itu akan diperuntukkan untuk diri kita sendiri pada saatnya nanti, bukankah kita adalah cerminan masa depan bangsa..? 

    kita tau bahwa mereka yang hari ini di singgasana adalah pemuda dimasa lalu yang boleh jadi jauh lebih baik dari kita, dan pemuda hari ini pada saatnya nanti akan menempati dan menggantikan posisi mereka.

    Kita menghendaki perubahan yang besar pada bangsa, namun mampukah kita membebaskan dan merubah diri dari kemalasan atas hal-hal kecil. terlambat berangkat kuliah, terlambat masuk kantor, TERLAMBAT seolah menjadi julukan yang melekat, dan anehnya kita bangga atas itu.

    Karakter sebuah bangsa adalah karakter dari masyarakatnya, karena bangsa adalah akumulasi dari individu masyarakatnya, mengkritik bangsa adalah mengkritik masyarakatnya dan kita adalah bagian dari masyarakat itu sendiri, yang pada prinsipnya kritikan itu akan kembali ke-diri masing-masing individu. Mari memperbaiki bangsa dimulai dari memerdekakan diri, menghadirikan diri yang merdeka atas segala jebakan individu.

    Selamat HUT-73 NKRI, mari  hadirkan semangat kemerdekaan dalam setiap relung kehidupan, sehingga kita betul-betul merdeka.

    Sehingga setiap gerak langkah dan nafas didorong oleh jiwa yang termerdekakan dari segala keterjebakan individual.(*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: Menghayati Kemerdekaan sebagai Autokritik atas Individu Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top