728x90 AdSpace

  • Latest News

    Monday, 23 September 2019

    Catatan Akhir Periode: Koalisi Menuju Gila yang Sempurna


    ​​Oleh: Abdul Gafur (Ketua DPD IMM Sulawesi-Selatan Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik)​

    ​DPDIMMSULSEL.OR.ID --  ​​“Pembangkangan, bagi mereka yang membaca sejarah, adalah kualitas terbaik manusia. Melalui pembangkanganlah kemsjuan dicapai, melalui ketidak-patuhan dan pemberontakan” Oscar Wide
    ​“Perlawanan dan pembangkangan masih tetap merupakan satu-satunya kekuatan yang sanggup mengatasi barbarisme” Alex Comfort
    ​“Alangkah beruntungnya penguasa bila rakyatnya tidak bisa berpikir” Adolf Hitler
    ​Imajinasi kita tentang era reformasi babak belur, 20 tahun proses transisi malah berjalan mundur, silih berganti kekuasaan tidak kunjung menghadirkan harapan, perjuangan patriot keluar dari otoritarianisme hancur berantakan. Kita berada pada persimpangan yang membahayakan, kehilangan arah, tidak punya tujuan, akankah kita kembali? Atau akan lebih buruk? Situasi hari ini mengarah pada  semakin menguatnya persenggamaan antara kekuasaan Negara dengan oligarki, mereka berselingkuh secara terang-terangan, sesekali saling memperkosa di depan khalayak.

    ​​Episode demi episode mereka tayangkan, berharap menjadi hiburan, untuk melupakan derita pilu yang dialami, sempat kita terlena, dibuai dengan hiburan mesum itu. Sampai kemudian kita tersadar, yang kita saksikan adalah semu, kita tidak akan pernah menikmati orgasme itu, karena semuanya palsu dan penuh ilusi. Mungkin ini yang dimaksud oleh Gramsi bagaimana Hegemoni bekerja, pada semua aspek, pada setiap aktivitas kehidupan, tidak ada yang terlewatkan, bekerja begitu sempurna, untuk memalsukan semua imaginasi soal kehidupan berbangsa yang katanya berjalan baik.

    ​​Triangle demokrasi yang di propagandakan oleh Huntington gagal berkerja, lebih tepatnya digagalkan untuk berfungsi. Harapan bahwa komponen state, market dan juga civiel society dapat berkerja untuk saling mengimbangi, hanya bekerja dalam teks-teks teori. Yang terjadi kemudian adalah saling berkolaborasi dengan akhir saling menghianti, Negara dengan pasar berselingkuh untuk mengangkangi masyarakat sipil, menjadi miris masyarakat sipil sebagian malah senang menjadi penjilat, mereka kadang begitu menikmati fungsinya sebagai penjilat.

    ​​Hari-hari belakangan ini memang begitu berat, duka-cita meyaksikan keadaan berbangsa dan bernegara kita, kekuasaan tidak lagi ragu memporak-porandakan bangunan reformasi  yang begitu sulit diperjuangkan, Negara tidak peduli begitu banyak anak bangsa yang jadi korban untuk bisa sampai pada titik ini, mereka dilupakan, dilupakan oleh mereka yang pernah berjuang bersama. Mereka menjadi penghianat untuk bisa sesaat menikmati kuasa yang dibangun diatas tulang dan darah sahabatanya sendiri. Mereka begitu mudah melupakan bahwa perjuangan dimasa lalu mengatasnamakan rakyat, hari ini kata rakyat ditinggalkan dan diminta untuk bersabar.

    ​​2019 adalah tahun yang melelahkan bagi bangsa ini, disebut sebagai tahun politik, momen berakhirnya kepemimpinan nasional, yang artinya ada kesempatan untuk terjadinya sirkulasi kekuasaan, baik kekuasaan eksekutif maupun kekuasaan legislative. Maka terjadilah polarisasi dalam kehidupan masyarakat, para elit politik mebelah public, manunggangi manyarakat untuk berebut kuasa, suara masyarakat diperebutkan, jadilah para politisi pengemis suara rakyat, memamerkan berbagai prestasi yang ilutif, serta harapan yang utopis.

    ​​Proses politik berjalan, public dipenuhi huru-hara, diciptakan oleh mereka yang tuna kuasa, hingga korban sipil berjatuhan, melahirkan “tokoh fiktif” sebagai penumpang gelap demokrasi, elit politik berkompromi, untuk mendapatkan legitimasi diantara mereka, mereka meninggalkan masyarakat yang terbelah karena ciptaan mereka, bernegosiasi untuk malakukan tukar tambah kepentingan, untuk bersatu merampok bangsa ini, menggadai semua yang masih memiliki nilai, tidak jarang rakyat menjadi jualan yang menggiurkan.

    ​​Saat-saat yang ditakutkan itu tiba, menuju akhir periode kekuasaan, dimana Negara yang menggunakan konsep Montesquieu soal pemisahan kamar kekuasaan, antara legilatif dan eksekutif dengan pikiran bahwa akan terjadi check and balances, untuk mengantisipasi terjadinya perampokan dan otoritarinisme oleh Negara, hari ini dinding pemisah itu runtuh begitu sempurna, tampak begitu terang, sayangnya yang terang adalah buramnya fungsi kuasa yang melekat pada meraka, meyatu dalam satu tarian yang sama menghancurkan konsolidasi demokrasi yang sedang berlangsung.

    ​​Kejadian beberapa waktu terakhir memperlihatkan kepada kita semua bagaimana legislative yang akan segera mengakhiri masa tugasnya memberikan kado pahit dan menyakitkan, dengan lahirnya beberapa UU dan RUU yang akan mengkooptasi amanat reformasi dan tentunya mematikan bangunan demokratisasi yang kita perjuangkan bersama, yang lebih tragis adalah dukungan Presiden terhadap kebijakan-kebijakan tersebut diikuti dengan sandiwara-sandiwara seolah pro terhadap perjuangan sipil.

    ​​Kegilaan yang di pertontokan  di akhir masa jabatan itulah menjadi gambaran yang sempurna betapa masih berat dan panjang perjuangan masyarakat yang meliliki harapan dan imajinasi tentang masyarakat yang adil dan makmur. Situasi suram itu harusnya memberikan kita makna, bahwa kepercayaan dan keyakinan kita pada pemimpin Negara perlu untuk di koreksi. Sudah saatnya kita bergerak, soal inilah yang mebuat kita memerlukan barisan aktivis yang militant dan terorganisir. Jika keadaan ini tidak mampu kita selamatkan, maka kita tidak hanya mengenyahkan nilai demokrasi dan kemanusiaan kita tapi akan mengantarkan kita  tradisi politik kekuasaan yang totaliter dan barbarian.

    ​​Pada akhirnya masyarakat harus mengambil alih peran oposisi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah waktunya mengambil kembali daulat yang telah dititipkan pada DPR yang justeru menghianati kehendak kita. Mari bergerak bersama, jangan hiraukan sempalan penjilat yang memperjual-belikan dirinya atas nama rakyat. 
    ​Sekali lagi waktunya untuk tidak diam dan ragu.. !!!

    ​​“Dengan pidatomu itu, tegakkanlah mereka yang lemah, korek kuping yang tuli, bukakan mata yang buta, bangunkan yang tidur, suruh berdiri yang duduk, dan suruh berjalan yang berdiri, itulah kewajiban seorang yang tahu akan kewajiban seorang putera tumpah darahnya” Tan Malaka
    ​“Jadilah debu, maka mereka akan melemparkanmu ke udara. Jadilkah batu maka mereka akan melemparkanmu ke kaca” Muhammad Iqbal.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: Catatan Akhir Periode: Koalisi Menuju Gila yang Sempurna Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top