728x90 AdSpace

  • Latest News

    Tuesday, 18 February 2020

    ​Collaborative Leadership IMM di Tengah Gelombang Ketidakpastian


    (Catatan Menuju Musyawarah Daerah IMM Sulawesi-Selatan)

    ​Oleh: Abdul Gafur (Ketua Bidang Hikmah DPD IMM Sulawesi-Selatan)

    ​DPDIMMSULSEL.OR.ID — “It is the long history of human kind (and animal kind, too) that those who learned to collaborate and improvise most effectively have prevailed”
    ​(Charles Darwin)

    ​“Tidak ada dari kita, termasuk saya, pernah melakukan hal-hal besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil, dengan cinta yang besar, dan bersama-sama kita bisa melakukan sesuatu yang wonderfull”
    ​(Bunda Teresa)

    ​Hari-hari ini kita hidup di era yang penuh dengan guncangan perubahan yang juga disertai dengan kondisi yang penuh ketidakpastian dan situasi peradaban yang juga semakin kompleks. Dunia mengalami tantangan baru, krisis eropa yang tidak kunjung usai menyebabkan situasi ekonomi global menghadapi ketidakpastian, krisis bahkan hampir menjalar ke seluruh penjuru global, belum lagi perang dagang diantara Negara digdaya mempertajam ketidakpastian.

    ​Kondisi ketidakpastian adalah situasi yang saat ini semakin nyata dengan frekuensi yang tinggi. Ketidakpastian yang semakin cepat terjadi dan melanda berbagai sector kehidupan manusia, menjadi satu tantangan yang maha berat bagi para pemimpin, bahkan dalam situasi tertentu ini menyebebkan frustasi yang melemahkan para pemimpin. Pemimpin organisasi diseluruh dunia menghadapi tantangan yang sama, yaitu bagaimana bertindak secara efektif ditengah krisis multisektor yang penuh ketidakpastian. Kepemimpinan menghadapi ujian, mulai dari kepemimpinan ditingkat Negara, korporasi bahkan kepemimpinan organisasi diberbagai lintas sector.

    ​Kita menyaksikan dengan jelas berbagai Negara sedang mengalami kegalauan tersendiri dalam menghadapi gelombang ketidakpastian. Inggris galau karena ketidakpastian masa depannya pasca keputusannya tentang Brexit. Singapura galau karena ketidakpastian yang akan muncul pasca beroperasinya Terusan Kra proyek Thailand dan Tiongkok yang berpotensi akan membunuh Pelabuhan Singapura. Dengan melewati Terusan tersebut bisa menghemat sekitar 1200 km dibandingkan jalur konvensional. Amerika Serikat juga dihantui dinamika politik internal yang bisa membuat ketidakpastian. Negara-negara produsen elektronik galau akibat disrupsi inovasi yang membuat produknya menjadi usang.

    ​Menghadapi era yang penuh dengan gelombang ketidakpastian tersebut berpotensi membuat kita rapuh. Namun demikian, kerapuhan akibat kondisi tersebut dapat kita konversi menjadi kelincahan bila kita siap dengan skill baru, antara lain menciptakan kekuatan visi baru tentang masa depan, kreativitas, risk literacy, complex problem solving, fleksibilitas, dan kolaborasi. Jika kita mengacu pada studi Mc Kinsey (2019) yang menginformasikan bahwa di Indonesia terdapat 23 juta pekerjaan yang akan digantikan mesin akibat otomatisasi. Namun pada saat yang sama 27 juta hingga 46 juta pekerjaan baru akan tercipta.

    ​Dalam situasi tersebut, potensi yang ada pada situasi yang kita hadapi hari-hari ini mampu untuk kita manfaatkan, apabila kita bisa melakukan perubahan dengan cepat serta sanggup beradaptasi terhadap tuntutan zaman, Charles Darwin dalam teori evolusinya mengafirmasi kepada kita bahwa mahluk hidup yang bisa bertahan bukanlah yang terkuat dan terpintar tetapi yang responsif terhadap perubahan. Responsif terhadap perubahan mensyaratkan sejumlah softskill seperti kemampuan belajar dengan cepat, kegesitan, fleksibilitas, dan future mindset.

    ​Tantangan tersebut tentu tidak hanya menjadi tugas pemimpin organisasi Negara, akan tetapi juga menjadi tantangan yang dihadapi oleh semua pemimpin diberbagai tingkatan organisasi, tidak terkecuali organisasi pada tingkat mahasiswa dan pemuda, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan juga mengadapi tantangan yang sama, bahkan dengan beban lebih berat, mengingat organisasi kepemudaan dan kemahasiwaan menjadi laboratorium untuk menyemai potensi kememimpinan setiap setiap generasi muda, yang akan menjadi penentu masa depan suatu bangsa.

    ​Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah satu organisasi terbesar yang ada dibangsa ini, tentu bertanggung-jawab secara moral dalam mempersiapkan manusia-manusia Indonesia yang mumpuni, memiliki kemampuan luar biasa untuk menghadapi peradaban yang serba tidak pasti ini, IMM harus mampu merumuskan satu pendekatan kepemimpina yang lebih segar sehingga memungkikan kader-kadernya berhadapan dengan kompleksitas persoalan yang dihadapi.
    ​Lalu yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana model kepemimpinan yang tepat bagi IMM di masa yang penuh dengan ketidakpastian, disruptive, dan chaos ini?

    ​Dalam konteks kepemimpinan IMM kita akrab dengan model kepemimpinan kolektif kolegial, tentu hal tersebut tetap model ini tetap dibutuhkan terkhusus dalam aspek manajemen kepemimpinan organisasi. Teori-teori mutakhir tentang kepemimpinan juga bergeser, dimana hari-hari ini selain model kepemimpinan adaptif yang wajib dimiliki setiap pemimpin organisasi, collaborative leadership juga penting dan harus diterapkan di setiap lingkup kepemimpinan, termasuk dalam kontek kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

    ​Dalam tulisan Wargadinata (2017) Adagium yang tepat yang mendasari kepemimpinan kolaboratif disampaikan oleh Kozes dan Posner (2007 ”leadership is not a solo act, it’s a team effort”. Kepemimpinan bukanlah kegiatan yang dilakukan sendiri tapi merupakan tindakan ataupun upaya kelompok. Tantangan terhadap pemimpin saat ini sangat jauh berbeda dengan keadaan masa lalu, konsep kepemimpinan telah berubah sedemikian cepat bukan hanya untuk organisasi publik, tapi juga menjadi tantangan berat bagi eksistensi organisasi kemahasiswaan. Pengetahuan kader-kadaer harus semakin meningkat, nilai-nilai sosial yang mengalami pergeseran, hubungan pimpinan dengan kader tidak lagi didasari oleh prinsip feodalisme dan primordialisme. Dinamika internal dan pengaruh faktor eksternal turut mempengaruhi prinsip-prinsip kepemimpinan di era modern ini.

    ​O’leary mengemukakan delapan syarat penerapan kepemimpinan kolaboratif; a) harus diarahkan oleh visi yang jelas, b) membutuhkan inovasi, kreativitas dan fleksibilitas, c) komitmen kuat untuk menciptakan suasana kondusif, d) meningkatkan keterbukaan informasi, e) menciptakan kolaborasi vertikal dan horizontal, f) melakukan kolaborasi lintas sector, g) Menciptakan kemitraan/partnership, h) menyampaikan pencapaian kinerja organisasi.

    ​Dalam hal tersebut, kita harus sadar bahwa perubahan hampir selalu membawa kebaruan. Menghadapi kebaruan kita butuh belajar cepat sehingga butuh pemimpin ikatan dengan mental pembelajar yang lincah. Future mindset menarik garis ke depan dengan penuh keyakinan bahwa perubahan adalah keniscayaan. Future mindset selalu siap dan sigap menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Namun kecepatan dan kelincahan juga diperlukan menghadapi volatilitas. Ketidakpastian harus dihadapi dengan kolaborasi dalam memimpin organisasi
    ​Ke depan, Inovasi yang dahsyatpun umumnya yang berbasis kolaborasi. Kita tidak mungkin sendiri-sendiri menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian itu. Kolaborasi memungkinkan terjadinya akumulasi potensi untuk menjadi kekuatan baru. Namun kolaborasi yang kuat akan tercipta bila didasari oleh rasa saling percaya yang tinggi. sebagaimana studi Fukuyama. Unsur penting dalam membangun high trust society adalah integritas, dan integritas akan muncul dari kejujuran.

    ​Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terutama para pimpinan IMM harus memiliki future mindset dengan membangun kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi, jika hal tersebut mampu kita maksimalkan maka eksistensi IMM di tengah gelombang ketidakpastian dapat bertahan. Olehnya, kepada seluruh kader, dan seluruh pimpinan IMM, mari kita bersama memebangun kempimpinan kolaboratif untuk kejayaan kita, kajayaan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

    ​“Seorang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan”
    ​(Muhammad SAW).
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: ​Collaborative Leadership IMM di Tengah Gelombang Ketidakpastian Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top