728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sunday, 21 June 2020

    Pancasila Menggugat RUU HIP: Sebuah Turbulensi Ideologi Di Tengah Pandemi Covid-19


    Oleh: Tajuddin, S.E.
    (Ketua Bidang RPK DPD IMM Sulsel 2020-2022)

    Mukadimah
    Ir. Soekarno (Presiden RI I) dalam bukunya berjudul “Indonesia Menggugat.” Buku tersebut mengkritisi praktek Imperialisme-kapitalisme yang mengimperialisasi dan mengkapitalissi kekayaan bangsa Indonesia secara khusus dan Negara-negara dunia ketiga secara umum. Kerisauan Soekarno terhadap imperialisme yang mengancam rakyat pribumi bangsa indonesia juga dirisaukan oleh banyak tokoh dari berbagai kalangan kala itu. Oleh karena itulah Soekarno secara pribadi memilih Uni Soviet (negara komunisme) sebagai mitra dalam membangun bangsanya, meski secara tegas dia mengatakan Indonesia sebagai negara berhaluan non-blok.
    Imperialisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah; “sistem politik yang bertujuan menjajah negara lain untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan yang lebih besar.” Indonesia sebagai negara yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA) menjadi arena pertarungan politik-ekonomi negara maju seperti AS, China dll. Seperti yang dikatakan oleh Jhingan bahwa: “minat bangsa maju dalam menghapuskan kemiskinan tidaklah lahir dari motif kemanusiaan. Alasan utama adalah perang dingin antara Barat dan Rusia.” (M.L. Jhingan: Ekonomi Pembangunan Dan Perencanaan. 2014).
    Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka harusnya berdiri dengan identitas dan konstitusinya sendiri. Sebagai negara non-blok atau bukan Negara yang berafiliasi dengan Negara demokrasi-kapitalisme yang berkiblat ke Amerika Serikat (Blok Barat) dan bukan juga Negara yang berafiliasi dengan Negara sosialisme-komunisme yang berkiblat ke Uni Soviet (Blok Timur) sebelum terpecah pada 1991. Namun faktanya Indonesia tidak bisa melepas ketergantungan terhadap negara maju seperti AS dan China. Termasuk proses perhelatan demokrasi Indonesia tidak bisa menghindari campur tangan negara asing, sehingga ada kongkalikong dengan negara luar. Karenanya masih ada bekas luka penjajahan sehingga bangsa ini mengalami cacat yang susah disembuhkan.


    Saya Pancasila
    Istilah ‘saya pancasila’ pertama kali dipopulerkan oleh Joko Widodo (Presiden RI VII) kemudian sontak viral di berbagai media. Terlepas dari pro-kontra ucapan Jokowi (sapaan akrab Joko Widodo) tersebut, penulis ingin memaknai ucapannya sebagai ucapan simbolik seorang presiden kepada bangsa dan rakyat Indonesia, bahwa pancasila sebagai sebuah doktrin ideologi berbangsa yang inklusif, maka harus dijiwai tiap-tiap warga negara. Pancasila tidak ada apa-apanya tanpa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Presiden dan seluruh rakyat Indonesia harus menjiwai dan kemudian mengamalkan pancasila dalam konteks bernegara, maka tentu setiap warga negara menjadi pancasila yang hidup dan menjadi warga negara yang cinta tanah air.
    Sebagai pancasila yang hidup harus melayangkan gugatan jika ada yang mengusik dan mengganggu gugat teks pancasila. Di tengah pandemi covid-19 yang mewabah, Indonesia mengalami turbulensi ideologi, sehingga memunculkan riak dan gejolak dari berbagai pihak. Pasalnya, DPR RI tergesa-gesa meligislasi RUU HIP (Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila) pada tanggal 26 April 2020 yang berisi 10 bab dan 60 pasal. Melalui RUU HIP ini pancasila direduksi menjadi Trisila kemudian dikerucutkan menjadi Ekasila. Dengan RUU HIP ini ideologi pancasila mengalami cacat nilai serta mengalami turbulensi.
    Pancasila sebagai ideologi negara mengalami turbulensi atau gangguan dan cacat nilai teologi dan histori ketika dalam RUU HIP ini tidak mencamtumkan TAP MPRS No XXV/1966 dan mengabaikan Piagam Jakarta 22 Juni 1945. Padahal dalam TAP MPRS tersebut pada poin (a) menimbang secara jelas bahwa: “Paham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme pada inti hakekatnya bertentangan dengan ideologi Pancasila.” Kedua, RUU HIP cacat nilai histrori ketika ingin mereduksi pancasila menjadi trisila dan ekasila, karena patokannya hanya pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Padahal rumusan final Pancasila secara musyawarah mufakat oleh para tokoh pejuang kemerdekaan pada 18 Agustus 1945. Secara akal sehat telah terjadi kemunduran sejarah dan menafikan sila ke-4 dari pancasila. Jelas sekali dalam pandangan Muhammadiyah bahwa pancasila sebagai Darul Ahdi Wassyahadah, yakni negara yang dibentuk di atas konsensus bersama dan itulah ciri negara yang kuat di masa akan datang.
    Pancasila Menolak Kapitalisme dan Komunisme
    Pancasila sebagai dasar negara sebagaimana yang disebutkan dalam pembukaan UUD 1945, terdiri dari lima (panca) sila, yaitu: 1). Ketuahanan Yang Maha Esa; 2). Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3). Persatuan Indonesia; 4). Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 5). Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
    Buya Syafi'i Ma'arif sebagai guru bangsa pernah berkata bahwa: "Pancasila diagungkan dalam kata, dimuliakan dalam tulisan, tetapi dikhianati dalam tindakan."  Pancasila sarat dengan nilai dan etos keindonesiaan yang berbhineka tunggal ika. Jika dirunut mulai dari sila pertama sampai ke sila kelima, maka sudah sangat sempurna dijadikan sebagai dasar bernegara demi mencapai kehidupan dan negara utama seperti yang dicitakan oleh Plato dalam buku "Republika"-nya. Atau cita-cita Muhammadiyah adalah berjuang mewujudkan Indonesia berkemajuan.
    Salah seorang tokoh intelektual berkebangsaan mesir yakni Hasan Hanafi dalam pemikiran teologi islamanya. Hanafi beranggapan bahwa tonggak kemajuan peradaban harus dimulai dari membangun tauhid (ketuhanan/teologi). Salah satu konsepnya adalah menafsirkan teologi islam klasik yang masih melangit menjadi teologi islam yang ilmiah dan membumi. Tujuannya menurut hanafi adalah teologi tidak sekedar dogma keyakinan semata, tetapi harus diaktualisasikan dalam kehidupan untuk perjuangan sosial dan kemanusiaan. Demikian juga dengan Amin Rais tokoh reformis Indonesia dengan pemikiran tauhid sosialnya dalam upaya menggempur kesenjangan yang menganga lebar.
    Secara historis sejak awal perjuangan Islam oleh Nabi Muhammad Saw. selama kurang lebih 13 tahun lamanya pada fase mekah yang hanya membumikan (baca: mendakwahkan) tauhid sebagai dasar dari segala dasar kehidupan. Tauhid secara aktual menjadi pembebas manusia dari kesasatan keyakinan dan pemikiran, pendobrak kebobrokan moral dan krisis kemanusiaan kala itu. Perbudakan terhadap yang minoritas, penindasan terhadap yang lemah dan masih banyak tindakan nir-manusiawi yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad Saw. lewat doktrin tauhid.
    Di dalam kandungan pancasila sudah sangat ilmiah untuk membangun peradaban teosentris kepada antroposentris dalam konteks keindonesiaan. Teologi (ketuhanan) harus membingkai sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan sosio-kultural. Ketika ketuhanan tidak menjadi hal yang fundamental dalam membangun peradaban bangsa Indonesia. Maka pastikan kapitalisme dan komunisme akan selamanya mencengkeram keindonesiaan bangsa ini.
    Kapitalisme adalah ideologi negara penjarah kemerdekaan setiap bangsa yang dicengkeramnya, menjarah semua kekayaan alamnya dan memiskinkan rakyatnya. Fakta kehidupan rakyat Indonesia hari ini adalah dampak dari imperialisme-kapitalisme. Begitupun dengan komunisme tak ubahnya memiliki misi sama dengan kapitalisme ingin memperluas sebaran ideologi kekuasaan. Indonesia sebagai negara merdeka memiliki dasar dan UU yang bernegara yang menolak praktek kapitalisme dalam mensejahterakan rakyat, dan menolak praktek komunisme dalam menjalankan amanat pancasila yang berketuhanan. Indonesia adalah indonesia yang memiliki ideologi bukan ideologi kapitalisme dan bukan pula ideologi sosialisme-komunisme, tetapi ideologi indonesia adalah ideologi pancasila.
    Membela Pancasila Membela Ke-Tuhan-an dan Kemanusiaan
    Dalam sebuah kisah percakapan cicak dan katak saat Nabi Ibrahim a.s. dibakar oleh Raja Namrud. Saat itu diceritakan seekor katak mengambil air dengan mulut berusaha memadamkan kobaran api yang membakar Ibrahim a.s. Seekor cicak meledak katak dengan meniup api yang berkobar yang tak mungkin padam oleh air yang disemburkan oleh katak. Katak itu berkata kepada cicak bahwa: "Wahai cicak betul saya tidak mungkin memadamkan kobaran api yang besar ini, tapi saya hanya ingin dinilai oleh Tuhan sebagai pembela kebenaran." Memang Tuhan tak perlu (baca: butuh) dibela sebagaimana judul buku kumpulan tulisan Gus Dur, namun kita hanya mengharap keridaan-Nya dan membela kebenaran sebagaimana kehendak-Nya (Q.S. 47:7).
    RUU HIP pada pasal 7 ayat 2 & 3 ada upaya mereduksi nilai ketuhanan dalam pancasila menjadi trisila (sosio-nasiolisme, sosio-demokrasi & ketuhanan yang berkebudayaan). Apalagi jika diperas menjadi ekasila yaitu gotong royong maka semakin keringlah etos keindonesiaan dari nilai ketuhanan. Maka arah peradaban bangsa indonesia dibawa ke hutan belantara antroposentrisme, yang memusatkan peradaban hanya manusia semata. Bahkan dibawa kepada materialisme-ateisme. Harus ditegaskan bahwa karena berketuhananlah Indonesia menjadi bangsa yang kuat dalam lintasan sejarah meraih kemerdekaan. Karena spirit ketuhanan dalam diri para pejuang kemerdekaan berhasil membebaskan bangsa ini dari penjajahan yang menginjak-injak nilai kemanusiaan. Maka seharusnya pancasila mengkristal menjadi nilai Ketuhanan Yang Maha Eka (Esa) pada tiap 4 sila yang lain.

    Sumber Pustaka:
    Soekarno, Indonesia Menggugat, dalam e-Book PDF: DEPARTEMEN PENERANGAN REPUBLIK INDONESIA
    M.L. Jhingan, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, 2014, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
    Wahid, Abdulrahman, Tuhan Tidak Perlu Dibela, 2016, Yogyakarta: Saufa (Bekerja sama dengan LKiS)
    Pernyataan Pers Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nomor 09/PER/I.0/I/2020, Tentang Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila
    Dewan Perwakilan Rakyat, Draft Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila, 2020, dalam e-FILE PDF
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 comments:

    Post a comment

    Item Reviewed: Pancasila Menggugat RUU HIP: Sebuah Turbulensi Ideologi Di Tengah Pandemi Covid-19 Rating: 5 Reviewed By: Dpdimmsulsel
    Scroll to Top